Aditia Purnomo


Negara harus berpihak pada petani, begitulah seruan nyata Iwan Fals dalam lagu Desa miliknya. Petani sebagai sumber penghidupan bangsa yang memberikan jiwa raganya untuk menyediakan pangan pada masyarakat. Tapi apalah daya, mungkin pemerintah terlalu sibuk sehingga tak sempat meluangkan waktu untuk mendengar seruan tadi.

Kini, petani yang harusnya perkasa dibuat sempoyongan dengan berbagai macam cobaan dari Negara. Bagaimana tidak, lihat saja arus impor yang begitu besar melanda pasar Indonesia. Mulai dari beras, kedelai, cabai, daging, dan banyak lagi membuat para petani lokal kelimpungan. Kebutuhan pangan masyarakat yang begitu tinggi disertai kurang memadainya ketersediaan pangan dari petani dijadikan dalih pemerintah untuk memainkan kebijakan impor di Indonesia.


Komunis selalu menjadi bahaya laten. Sejak berdiri, Gerakan Komunis selalu menjadi ancaman bagi para pendukung imprealisme kapitalisme. Itulah yang membuat Partai Komunis Indonesia harus hancur pada akhir tahun 1965. Gerakan 30 September, gerakan yang dipimpin Letkol Untung lah yang menjadi penyebabnya.

G30S, gerakan perwira menengah Angkatan Darat yang muak melihat gaya hidup para Jendral yang glamour dan serba mewah, berbanding terbalik dengan hidup para perwira menengah yang pas-pasan. Gerakan ini membawa misi menyelamatkan Presiden Soekarno dari kudeta para Jendral dan mengamankan pemeritahannya.



Bangsa kita adalah bangsa yang besar, itulah yang diyakini Soekarno ketika ia bersama para pendiri Republik ini berjuang memerdekakan Indonesia. Karena itu, kehadiran sebuah Negara boneka milik imprealis di samping persis perbatasan Republik tak dapat ditolerir. Ganyang Malaysia! Begitu katanya.

“Kerahkan pasukan ke Kalimantan hajar cecunguk Malayan itu! Pukul dan sikat jangan sampai tanah dan udara kita diinjak-injak oleh Malaysian keparat itu!”, begitu semangatnya Soekarno dalam melakukan konfrontasi ke Malaysia sana.