Pendidikan masih menjadi barang mahal bagi sebagian masyarakat Indonesia. Masih tingginya angka putus sekolah dan tingginya biaya kebutuhan sekolah menjadi sebuah bukti jika pendidikan masih menjadi kebtuhan tersier bagi sebagian masyarakat. Akibatnya, pendidikan selalu dianggap sebagai investasi bagi anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Pada tahun ini, reformasi telah berjalan selama 15 tahun. Dalam rangka memperingatinya, banyak pihak melakukan seremoni-seremoni guna mengingat salah satu peristiwa paling bersejarah bagi perjalanan bangsa. Mahasiswa Trisakti misalnya, mereka kembali turun ke jalan guna mengingatkan masyarakat akan kisruh dan tragedi yang terjadi saat itu. Begitu pula Fadli Zon yang menerbitkan ulang buku “Politik Huru-Hara Mei 1998” di peringatan 15 tahun reformasi.
Dalam bukunya, Fadli Zon mencoba menarasikan kejadian-kejadian yang terjadi 15 tahun lalu. Dimulai dengan krisis skonomi Thailand, lembaga moneter internasional (IMF) mencoba masuk dan menggoyang politik Indonesia. Dengan dalih menyembuhkan perekonomian nasional yang terkena dampak krisi Thailand, IMF memberi “obat” yang tidak sesuai dengan penyakit kronis ekonomi nasional.
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat batu dan kayu jadi tanaman. Begitulah penggalan lirik lagu milik Koes Plus yang menggambarkan kekayaan alam bumi nusantara. Keragaman hayati, kesuburan tanah, samudra yang kaya raya, dan melimpahnya sumber daya mineral membuatnya disebut tanah surga.
Namun sayang, di negeri yang permai ini, di tempat padi terhampar, para penghuninya justru tak seperti hidup di surga. Berjuta rakyat bersimbah luka, anak kurus tak sekolah, serta pemuda desa tak kerja, begitu ungkapan John Tobing dalam lagu darah juang ciptaannya.
Namun sayang, di negeri yang permai ini, di tempat padi terhampar, para penghuninya justru tak seperti hidup di surga. Berjuta rakyat bersimbah luka, anak kurus tak sekolah, serta pemuda desa tak kerja, begitu ungkapan John Tobing dalam lagu darah juang ciptaannya.


