Aditia Purnomo

Kuliah kerja nyata (KKN) selalu disebut sebagai pengabdian. Dengan dalih penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi, mahasiswa dinilai sudah melakukan pengabdian setelah melaksanakan kegiatan tersebut. Tentu saja, standar pengabdian yang diberikan kampus untuk mahasiswa amatlah rendah. Dengan waktu 1 (satu) bulan, mahasiswa yang telah melakukan KKN dianggap telah melakukan pengabdian.

Coba kita tengok sejarah, bagaimana bentuk pengabdian para pendiri Republik ini mengabdi untuk bangsanya. Berulang kali Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan pejuang lainnya ditangkap. Berpindah dari penjara ke penjara, pengasingan ke pengasingan, bahkan mati demi menunaikan pengabdiannya kepada Indonesia. Jelas tak sebanding dengan “pengabdian semu” yang diarahkan sistem pendidikan nasional.


Habis gelap terbitlah terang. Mungkin hanya kalimat itu yang paling identik dengan sosok perempuan bernama Kartini. Bergelar Raden Ajeng, Ia dianggap sebagai pahlawan bangsa, khususnya para wanita karena semangatnya memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan wanita. Memperjuangkan hak emansipasi, tetapi tetap terpingit, dikawinkan paksa, melahirkan dan mati pada akhirnya.

Gambaran seperti itulah yang diberikan oleh rezim orde baru terhadap Kartini tanpa melihat sisi kehidupannya yang lain. Padahal, masih ada banyak sisi hidup yang dimiliki Kartini. Mungkin tak banyak yang tahu ketertarikan Kartini terhadap sastra, melalui puisi-puisi yang ditulisnya. “Pikiran adalah puisi, pelaksanaannya Seni! Tapi mana bisa ada seni tanpa puisi? Segala yang baik, yang luhur, yang keramat, pendeknya segala yang indah di dalam hidup ini adalah puisi,” begitu katanya.


Soekarno, Presiden pertama sekaligus proklamator kemerdekaan Republik Indonesia selalu dikenal sebagai dwi tunggal. Bersama M. Hatta, ia menjadi sosok yang dikenang rakyat Indonesia. Ya, selalu dikenal dengan sebutan Soekarno-Hatta. Ia selalu dikenal bersama Hatta, dikenang bersama Hatta, jarang dikenang secara personal.

Dalam kurikilum sekolah, perjuangan Soekarno sebagai aktivis perjuangan kemerdekaan hampir tidak dibahas. Karya tulis maupun arsitekturnya (perlu diingat, Soekarno adalah seorang insinyur) hampir tidak pernah dibahas. Begitu pula pidato pembelaannya di pengadilan Hindia Belanda yang tersohor dengan nama “Indonesia Menggugat”, hanya segelintir anak bangsa yang tahu.

Pemahaman yang setengah-setengah inilah yang membuat segelintir anak bangsa itu untuk memberi pemahaman yang penuh akan Bung Karno. Roso Daras adalah salah satunya. Melalui buku “Total Bung Karno”, ia memaparkan penggalan kisah hidup putra sang fajar.