Aditia Purnomo


Terkadang, dalam hidup ini kita hanya melihat suatu ilusi, kamuflase, atau apapun itu yang bermakna sama. Semua ini terjadi karena ketidakmampuan kita, sebagai manusia tentunya, melihat sesuatu yang tak Nampak. Tentu, apa yang disebut tak nampak ini bukanlah Jin, Setan, ataupun mahluk astral lain. Namun, hal yang tak bisa dilihat itu adalah isi hati seseorang.

Selama ini, banyak yang mengira saya ini adalah orang yang berani, kuat, atau tanggapan positif lainnya. Mereka menilai semua ini hanya berdasarkan apa yang saya kerjakan dan lakukan. Padahal, dibalik itu semua ada sebuah kebohongan yang saya ciptakan terhadap semua orang, agar saya dapat dinilai seperti tadi.

Di Indonesia, perbedaan adalah hal yang lumrah. Biasa. Sebagai sebuah bangsa yang hidup dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu, toleransi amat diperlukan masyarakat yang hidup dalam keberagaman. Keberagaman suku, agama, bahasa, dan masih banyak lainnya. Semua tetap harmoni dalam tenggang rasa yang dijunjung tinggi.

Perdebatan soal tembakau di Indonesia antara orang-orang kesehatan dan perokok tidak pernah selesai. Semua diskusi berujung pada debat kusir, tanpa masing-masing pihak berupaya memahami paradigma lawan diskusinya. Akibatnya, hingga hari ini kebencian terhadap rokok tetap saja merajalela. Dan hak-hak perokok masih saja dikebiri.

Di Indonesia, kedua belah pihak selalu saja berperkara. Padahal, masing-masing pihak sebenarnya bisa saling bergandeng tangan, bekerja bersama demi membangun negeri ini. Tembakau bisa berkembang dan kesehatan tetap terjamin. Tak percaya, coba lihat negeri kecil bernama Kuba di Amerika sana.