Aditia Purnomo

Jika tidak ada rumah judi milik Nyai Manggis, bisa jadi tidak akan ada dongeng perjalanan ke barat untuk mengehentikan perang sebelum terjadi. Bisa jadi, Sungu Lembu tidak akan bertemu Raden Mandasia dan keduanya tak akab bertemu Loki Tua.

Kejeniusan Paman Yusi Avianto Pareanom pada buku dongeng ini bisa dilihat dari (hampir) tidak ada tokoh yang tak berguna dalam cerita. Semua bertautan, dan memiliki keterkaitan dengan tokoh-tokoh lainnya.

Misal, Melur, perempuan pertama yang bermain bersama Sungu. Siapa bisa menerka tokoh ini bakal dijumpai kembali pada akhir cerita. Atau Wulu Banyak yang nyatanya menjadi tokoh penting dalam perjalanan ke barat, meski awalnya cuma diceritakan sepenggal saja.

Tapi dari banyaknya tokoh, saya menganggap Nyai Manggis adalah tokoh sentral yang menjadikan kisah dari masing-masing tokoh menjadi berkaitan. Ya, Nyai Manggis dan rumah judinya tak boleh dilupakan. Karena setiap rumah judi punya ceritanya masing-masing.

Di tempat itu, Raden Mandasia nekat mempertaruhkan gelang bahu resmi Kerajaan Giliwengsi. Sedang di Jogja, semalam, beberapa orang nekat mempertaruhkan pundi-pundinya untuk bertaruh memperebutkan pinggiran.

Ada pengantin baru yang pulang dengan wajah agak lesu setelah berulang kali mengeluarkan lembar merah dari dompetnya. Ada pula anak muda idola banyak wanita yang bertaruh sembari meneguk bergelas-gelas bir. Tentunya, ada pula yang tertawa terbahak menertawai keberuntungannya di meja judi.

Sepanjang tiga malam, berturut, meja kerja yang biasa digunakan untuk mengurus naskah berganti fungsi sebagai meja judi dadakan dalam sebuah upaya peringatan. Maklum, hari ini akan diluncurkan sebuah buku kiat berjudi paling mutakhir dari seorang penulis yang telah menghabiskan sebagian hidupnya untuk judi.

Penulis itu kini sudah berhenti dari profesi penjudi penuh waktu. Semasa muda, Ia meyakini bahwa judi adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sebelum akhirnya Ia sadar bahwa nekat saja tak cukup, perlu bakat juga keberuntungan dalam berjudi.

Malam nanti di Angkringan Mojok, mantan penjudi penuh waktu ini bakal membagikan sedikit pengalamannya. Tentunya dalam urusan judi. Bagi kalian anak muda yang belum tahu bagaimana nasib dan masa depan, silakan hadir di acara ini. Sembari ngopi-ngopi dan makan-makan, mari ubah tempat makan ini jadi rumah judi. Eh.

Ah iya, foto dibawah ini dapat tercipta karena kebaikan beberapa teman yang ikut judi semalam. Kepada mereka, juga kepada pemilik rumah judi, saya ucapkan terima kasih.

#‎KamiTakInginTumbuhDewasa

Dengan mengesampingkan ingar-bingar dan kehebohan novel Lelaki Harimau (Man Tiger) yang masuk nominasi The Man Booker Prize, nyatanya Eka Kurniawan mengawali karir kepenulisan dengan jalan yang tidak mudah.

Bermula dari tahun 2000-an, novel pertamanya Cantik itu Luka mendapat penolakan dari semua penerbit yang ia tawari draft buku. Eka merasa putus asa, novel yang telah ditulisnya malah susah diterbitkan.

Namun, di saat-saat tidak baik itulah, tawaran dari Yogya datang. Ia diminta balik ke Kota Berhati Nyaman dan berkegiatan di komunitas baru bernama Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY). Eka jelas tak bisa menolak tawaran tersebut. Di AKY, Eka bersama beberapa penulis lain seperti Puthut EA, Azhari, dan lain-lain menjalankan program untuk penulis pemula.

Di komunitas inilah Eka kembali menempa kemampuannya sebagai penulis. Sebagai penganggung jawab program diskusi di AKY, Eka mengurai masalah-masalah apa saja yang dialami para penulis pemula. Dari situlah kemudian Eka mengundang para pakar untuk memperluas pemahaman penulis muda AKY. Setelah enam bulan beraktifitas, AKY memberi subsidi penerbitan novel pertama Eka tersebut.

Bertahun-tahun setelahnya, kesuksesan Cantik itu Luka membawa Eka pada karir kepenulisan yang cemerlang. Beberapa bukunya diterbitkan oleh penerbit mayor. Cantik itu Luka diterbitkan ulang, serta dua buku baru Novel Lelaki Harimau dan kumpulan cerpen Corat-Coret di Toilet.

Pada masa-masa itulah, pertemuannya dengan Benedict Anderson membawa karir kepenulisannya mendunia. Cerita ini terselip pada sesi bincang-bincang saat peluncuran buku terbaru Eka Kurniawan yang berjudul O di Gramedia, Mall Central Park Jakarta Barat. Bersama sekitar 150-an pengunjung, Eka yang datang bersama istri dan anaknya merayakan terbitnya O dengan acara potong tumpeng serta berbagi pengalaman selama menulis buku ini.

Hari itu saya masuk dalam kategori orang-orang yang beruntung. Dalam rangka memperingati ulang tahun Gramedia yang ke 42, panitia syukuran menyiapkan hadiah buku O untuk dibagi kepada 42 orang yang datang pertama. Dan saya termasuk orang beruntung keempat.

Syukuran dibuka dengan agenda potong tumpeng, Eka maju mengambil pisau dan memotong tumpeng. Ia tersenyum sejenak, memberikan potongan tumpeng kepada anaknya, Kinan. Sehabis itu sesi bincang-bincang dimulai, dan Eka mulai bercerita sebagai awalan.

Novel ini bermula dari sebuah kebuntuan menulis yang harus dihadapi Eka pada medio 2010-an. Saat itu, ia sedang berupaya menyelesaikan draf-draf tulisan yang tak tahu hendak ia bawa ke mana. Hingga kemudian, ia menyaksikan pertunjukan sirkus topeng monyet di perempatan jalan kala mengantar anaknya ke sekolah. Sekali lagi Eka menjadi orang yang beruntung.

“Saya menulis novel ini dari kumpulan cerita-cerita yang belum tahu dibawa ke mana, stuck saja, bahkan sempat mau dibuang,” cerita Eka.

Mendapat inspirasi dari sirkus topeng monyet, Eka melanjutkan naskah-naskahnya yang terbengkalai dengan satu titik temu yang menarik. Sebuah ide muncul, ia merajutnya menjadi sebuah kisah fabel. “Tapi ini fabel bukan untuk anak-anak. Ini fabel khusus dewasa,” tegasnya sembari tertawa.

Novel O sendiri mengisahkan perjalanan seekor monyet bernama O yang belajar bagaimana cara hidup sebagai manusia. Monyet ini meyakini bahwa dengan berlaku seperti manusia maka ia akan berubah menjadi manusia yang sebenarnya, dan bisa menyusul kekasihnya yang telah menjadi seorang Kaisar Dangdut.

Dalam O Eka mencoba membuat fabel yang agak berbeda dengan kebiasaan umum. Kalau novel Animal Farm karya George Orwell menceritakan bagaimana manusia memiliki aspek-aspek kebinatangan, maka Eka menuliskan O dengan paradigma binatang yang memiliki aspek-aspek kemanusiaan. Bahkan dalam sirkus topeng monyet kita disajikan pertunjukan monyet yang hendak meniru manusia. “Ya sudah dibuat saja, kalau binatang mau menjadi manusia coba saja, memangnya enak,” katanya.

Pada peluncuran kali ini, ceritanya tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan masuk nominasi The Man Booker Prize. Berulang kali pertanyaan seputar keberhasilannya itu dilontarkan, dan Eka tetap menjawabnya dengan santai.

Sebagai seseorang yang hidup tanpa media sosial, Eka terlambat mendapatkan kabar tentang nominasi tersebut. Sebenarnya ia telah diberi kabar oleh seorang teman melalui pesan singkat, namun tak langsung dibaca. Barulah ketika membaca pesan tersebut, segera ia mencari koneksi WiFi untuk membuka tautan yang dikirim temannya.

Ini juga cerita menarik. Perlu diketahui bahwa Eka telah menutup semua akun media sosialnya sejak beberapa tahun lalu. Waktu itu, Eka mencoba menahan godaan untuk berkomentar yang amat terasa kala menggunakan media sosial. Karena itu, ia mencoba untuk ‘puasa’ menggunakan media sosial hingga akhirnya keterusan dan tidak lagi menggunakannya. “Saya tidak anti informasi, hanya menahan godaan untuk berkomentar,” celotehnya.

Untuk karir menulisnya yang mendunia, Eka merasa Ben Anderson adalah orang yang sangat penting. Pada pertemuan pertamanya dengan Ben pada 2008, Eka diminta menerbitkan novel-novelnya di luar Indonesia. Setidaknya, dalam bahasa Inggris atau Prancis. Eka hanya mengiyakan tanpa banyak berbuat apa-apa. “Ya saya tidak ngapa-ngapain karena nggak tahu apa-apa soal penerbitan di luar,” jelasnya.

Tahun selanjutnya, Eka kembali bertemu dengan Ben Anderson. Kembali Ben menanyakan kepada Eka tentang penerbitan novelnya di luar negeri.

“Bagaimana, udah ketemu penerbit belum?” tanya Ben

“Belum, Om. Hehehe….” ucap Eka sambil terseyum ketika menceritakannya.

Tiap tahunnya ia terus menanyakan hal yang sama hingga akhirnya datang orang dari penerbit Verso. Menurut Eka, orang dari Verso itu datang atas rekomendasi Ben. Mereka mengatakan ingin menerjemahkan novelnya ke dalam bahasa Inggris. Dan sekali lagi, Eka hanya mengiyakan.

“Bukan begitu, kami tidak memahami sastra Indonesia. Jadi kamu yang cari penerjemah,” jelas orang dari Verso.

“Oh, gitu ya,” jawabnya disambut gelak tawa para penggemar.

Akhirnya, Eka dibantu editornya di Gramedia mencari beberapa penerjemah untuk mengerjakan contoh terjemahan untuk nantinya diseleksi oleh Ben Anderson. Kenapa diseleksi oleh Ben, karena Verso yang memintanya. Lalu terpilihlah Labodalih Sembiring sebagai penerjemah novel Eka. Kemudian, Anda bisa cari di Google bagaimana kelanjutan ceritanya.

Menjelang berakhirnya acara syukuran ini, muncul sebuah pertanyaan menarik dari pengunjung. Setelah meraih kesuksesan di dunia menulis, bagaimana sih rasanya menjadi Eka Kurniawan?

Pertanyaan ini disambut tawa dari Eka serta hadirin yang lain. Lantas, dengan santainya Eka menjawab: “Sesungguhnya setelah 40 tahun menjadi Eka Kurniawan, saya merasanya cukup membosankan juga.” Dan pecahlah tawa hadirin menyambut jawaban itu.

Begitu acara selesai, sesi tanda tangan telah dipenuhi antrean yang cukup panjang. Bergegas saya mengisi antrean agar tidak semakin di belakang. Beberapa orang memilih menyantap tumpeng yang tersaji, tapi lebih banyak yang memilih mengejar tanda tangan Eka.

Saya lihat ke depan, sesi tanda tangan dan foto telah dimulai. Orang-orang secara bergantian meminta tanda tangan dan foto bersama. Sembari menunggu antrean, saya berbincang dengan seorang pengunjung yang telah membaca semua karya Eka. Menurutnya, meminta tanda tangan penulis adalah sebuah hal penting untuk menyempurnakan buku. “Kurang lebih biar buku yang saya baca ini paripurna,” jelasnya.



Giliran saya akhirnya tiba. Saya membawa dua buku untuk ditandatangani, satu untuk sendiri dan satu lagi untuk seorang kawan. Sembari meminta tanda tangan, saya meminta wejangan dari Eka. Biar bagaimana Eka adalah salah satu penulis Indonesia yang paling hebat. Sambil tersenyum, Eka membubuhkan tanda tangan dan sebuah kalimat. “Buat Adit, semoga cepat lulus,” pesannya, yang ditambahi emot di bawah tulisan.

Saya tertawa, dia pun tertawa. Purna sudah kebahagiaan saya hari itu.


Jadi Orde Baru itu pembohong ya?” ujar Dewi seusai diskusi Menyoal Orde Baru 1965-1998 di Belok Kiri. Fest akhir pekan lalu (5/3).

Dewi Nuraini adalah mahasiswa semester delapan di UIN Jakarta. Ia sama dengan kebanyakan mahasiswa pada umumnya, memilih tak aktif berorganisasi dan tidak begitu tertarik pada kegiatan politik. Kedatangannya di kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, tempat diselenggarakannya Belok Kiri. Fest karena ajakan temannya yang mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang.

Seminggu sebelum acara Belok Kiri. Fest (BKF) digelar, Dewi mengirim pesan setelah melihat kiriman tautan agenda BKF di dinding facebook saya. Ia menanyakan beberapa hal terkait acara, jadwal, dan bagaimana cara untuk mengikuti BKF. Saya jawab singkat saja dengan ajakan ke Taman Ismail Marzuki (TIM) bersama saat acara berlangsung. Dan dia sepakat.

Sayang, sehari sebelum BKF berlangsung panitia diminta untuk membongkar instalasi pameran yang sedianya akan berlangsung di Galeri Cipta II, TIM. Pengelola pun mengeluarkan surat pernyataan penolakan terhadap BKF karena izin dari Kepolisian Daerah Metro Jaya tak keluar.

Masih kurang gaduh, aksi penolakan terhadap BKF juga disampaikan oleh beberapa organisasi mahasiswa dan ormas lainnya. Pada hari di mana Festival harusnya berlangsung, panitia dipaksa membubarkan acara oleh pengelola dan kepolisian dengan dalih keamanan dan dapat menganggu ketertiban. Acara batal terlaksana di TIM, tapi tetap berlangsung dengan memindahkannya ke kantor LBH Jakarta di Jl. Diponegoro.

BKF dibuka pada Sabtu malam, 27 Februari 2016, di lantai satu gedung LBH Jakarta. Persiapan yang serba mendadak tidak mengurangi antusiasme para pengunjung yang telah hadir bahkan sejak siang sebelumnya di TIM. Awalnya, BKF akan dibuka dengan panggung dan penampilan yang agak ‘wah’. Namun kondisi memaksa acara hanya bermodal semangat kalau BKF harus tetap berjalan.

Di Kantor LBH, terpampang jelas instalasi pameran poster dari isi buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula. Semua isi dari buku itu—yang mulanya akan dijadikan poster pameran—memang tak semuanya ditempel lantaran tempat yang tak memadai.

Sayup-sayup terdengar ajakan berdiri kepada semua pengunjung untuk menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Saya yang tengah mengobrol dengan beberapa teman di luar ruang tempat pembukaan berlangsung, tanpa pamit bergegas masuk ke tempat pembukaan. Hampir semua pengunjung memegang selembar kertas, salah satu halaman dari buku SGKI, yang berisi lirik Indonesia Raya. Lagu dimulai, semua orang hikmat menyanyikan. Sampai kemudian, lagu dilanjut ke bagian kedua lirik asli dari Wage. Ternyata menyanyikan yang tiga stanza, pikir saya.

Masuk bagian terakhir, Yayak Yatmaka, tim penyusun buku SGKI yang memandu pengunjung bernyanyi, menaikkan tempo dan para pengiring musik memainkan bagian ini dengan lebih ceria. Ekspresi pengunjung, khususnya yang berada di barisan depan (termasuk saya) meledak. Semua bernyanyi dengan lantang, bergembira, dan khidmat dengan tangan kiri mengepal sambil meninju udara. Begitu berulang hingga lagu selesai.

Yayak Yatmaka, dalam pengantar sebelum nyanyian, mengajak para pengunjung untuk menyanyikan Indonesia Raya dengan lebih ceria. “Kita, dengan gembira menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tidak dengan cara-cara Orba, yang berdiri tegak dan bergaya seperti tentara,” ujarnya.

* * *

Pekan selanjutnya Belok Kiri. Fest kembali berlangsung di LBH Jakarta. Efi Sri Handayani, salah satu panitia acara terlihat duduk di depan gedung sambil membaca sebuah buku. Waktu itu, kira-kira lewat pukul 10 pagi di hari Minggu, langit agak mendung. Kantor LBH masih terlihat sepi. Efi adalah salah satu anak muda yang menjadi panitia di BKF. Ia mewakili generasi di usianya yang mencoba memunculkan wacana tentang ‘kiri’ yang selama ini dianggap tabu oleh kebanyakan masyarakat.

Menurut Efi, dalam sambutannya di pembukaan BKF, sejarah yang selama ini ia dan kebanyakan anak muda tahu, ternyata amat berbeda dengan kenyataan yang ada. Sejarah bangku sekolah, dalam bahasanya, tidak menceritakan tragedi ‘65 yang memakan banyak korban jiwa dan orang-orang yang dirampas haknya.

“Dari situ saya merasa sebagai generasi muda, merasa perlu berhak untuk mendapatkan pengetahuan sejarah yang lebih lengkap. Bukan persoalan benar atau salah. Tetapi sejarah yang jujur dan nyata,” jelasnya.

Katanya, anak muda perlu mengetahui kebenaran ini. Tapi bagaimana caranya, mengingat banyak buku alternatif tentang sejarah yang ada, namun tetap tidak banyak dibaca oleh anak muda. Karena itulah, ia dengan semangat membantu teman-teman panitia menginisiasi sebuah acara yang dikemas dalam bentuk populer untuk anak muda. Dan jadilah Belok Kiri. Fest ini.

“Karena kalau pakai gaya yang konservatif, siapa anak muda yg tertarik. Apalagi ini kan menyasar anak-anak muda yang tidak tahu apa-apa. Kalau diskusi sejarahnya kaku, malah susah dicerna. Toh banyak diskusinya yang memang untuk pemula,” tegas Efi.

Mendobrak stigma negatif yang selama ini melekat pada kiri memang tidak mudah. Apalagi jika menggunakan pendekatan yang tidak populer. Untuk itulah, agenda yang direncanakan di BKF ini lebih banyak menghadirkan diskusi-diskusi ‘untuk pemula’ agar anak muda yang hadir di acara ini dapat memahami pesan yang ingin disampaikan.

Selain itu, BKF juga mengagendakan pemutaran film-film dokumenter sebagai salah satu upaya menyampaikan wacana lewat bentuk yang lebih populer. Ada juga pameran yang menampilkan setiap halaman buku Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk pemula di luar ruang diskusi agar para pengunjung, terutama anak muda, bisa melihat gambaran gerakan kiri yang pernah membuat sejarah di Indonesia.

* * *

Sambil melihat lapak buku di lobi ruangan yang menjadi tempat berlangsungnya acara (tentu juga membeli beberapa) diskusi Menyoal Orde Baru 1965-1998 akan segera dimulai. Segera, setelah membayar, saya masuk dan mendengarkan pemaparan dari para narasumber. Menurut poster yang tersebar viral, diskusi ini harusnya dihadiri oleh Bonnie Triyana dan Asvi Warman Adam. Sayang, karena kondisi kesehatan mereka tidak bisa hadir. Beruntung, narasumber pengganti tidak kalah kualitasnya.

Saya terpukau melihat sebuah diskusi ilmiah bisa mendatangkan lebih dari 150 pengunjung dengan kondisi ruang yang tidak seberapa luas. Ini adalah pengalaman baru, mengingat diskusi ini digelar pada saat orang-orang beristirahat atau jalan-jalan di akhir pekan. Dan rasanya saya patut bersyukur. Karena jika tak ada acara ini, bisa jadi saya masih tidur pada jam-jam di hari-hari akhir pekan seperti ini.

Antusiasme pengunjung tidak sekadar duduk hadir mendengarkan lalu pulang begitu saja. Diskusi ciamik menyoal orba ini mendapat tanggapan aktif dari pesertanya. Usman Hamid dan Yeri Wirawan sebagai narasumber dengan apik menjabarkan bagaimana orde baru membangun kekuasaannya dan mempertahankan kekuasaan melalui berbagai strategi. Lalu, aduh saya lupa, ini rubrik Gaya di minumkopi.com bukan Indoprogress.

Saya semakin bergairah terhadap acara ini setelah melihat sekelompok pelajar SMA hadir dan serius menanggapi diskusi dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Saya merasa malu pada diri sendiri melihat progresifitas dan militansi anak seumur mereka.

Usai diskusi, di luar ruangan saya bertemu Dewi, mahasiswa semester delapan itu. Ia berbisik pelan ke saya, “Bang, emang ‘kiri’ itu apa sih?” Saya melongo. Gelora semangat yang baru saja terpupuk dalam diskusi itu hilang seketika.

Pertama tayang di minum kopi