Aditia Purnomo


Sebagai perokok, terkadang kita abai terhadap keadaan sekitar. Merokok di dekat anak kecil, merokok di kawasan yang dilarang, termasuk merokok ketika berkendara. Persoalan terakhir ini bisa menjadi bencana ketika Anda mengendarai sepeda motor sembari merokok.

Sekilas, merokok saat mengendarai motor bukanlah satu masalah besar. Pertama pengendara motor merokok di ruang terbuka, yang kemungkinan orang lain terpapar asap rokok sebenarnya kecil. Kecuali, orang yang tidak suka asap rokok itu adalah orang yang Anda bonceng.

Namun, persoalan muncul ketika bara api yang diakibatkan pembakaran rokok tak dibuang di tempat yang mestinya. Sekalipun para perokok berupaya membuang bara api rokoknya tanpa mengenai pengendara lain, namun risiko tersebut tetap ada dan membahayakan orang lain. Ini penting untuk diingat.

Tak hanya itu, sekalipun orang yang merokok saat berkendara tidak akan terus menerus membakar rokok di sepanjang perjalanan, tapi risiko asap rokok yang dihasilkan memapar pengendara lain tetap ada. Yang paling mudah menemukan kondisi-kondisi seperti itu adalah ketika para pengendara berhenti di lampu merah.

Saat berhenti di lampu merah, para pengendara motor cenderung berdekatan satu sama lain. Hal ini membuat risiko pengendara lain terpapar asap rokok menjadi besar dan amat mungkin terjadi. Hal ini tentu mengganggu, mengingat di jalanan para pengendara motor telah terpapar polusi kendaraan, ditambah kadang diganggu asap rokok dari pengendara motor yang merokok tanpa etika.

Hal-hal seperti inilah yang membuat orang lain semakin tidak menyukai rokok, juga perokok tentu saja. Mengingat paparan asap rokok adalah hal yang paling tidak disukai para pembenci tembakau, maka sudah seharusnya kita berupaya menghargai hak orang lain yang tidak merokok. Sebisa mungkin, jangan merokok ketika Anda tengah mengendarai sepeda motor.

Karena, selain merokok ketika mengendarai motor bisa mengganggu (juga bisa membahayakan) orang lain, hal tersebut juga bisa membahayakan Anda ketika berkendara. Melakukan dua aktivitas sekaligus di kendaraan, mengendarai dan merokok, bisa membuat konsentrasi Anda terbelah. Kemudian karena kurangnya konsentrasi, hal ini bisa membahayakan perjalanan Anda.

Kalau pun memang Anda merasa penat berkendara dan membutuhkan relaksasi sejenak, carilah tempat untuk beristirahat sejenak sembari menyalakan rokok Anda. Jika mau lebih asyik, cari tempat ngopi untuk menghilangkan kepenatan Anda ketika berkendara. Toh memang macetnya jalanan di kota-kota besar bisa membuat Anda stres dan membahayakan juga.


Marilah bersama kita menjadi pengendara dan perokok yang bertanggung jawab. Jangan sampai kepenatan membuat kita abai terhadap hak orang lain. Jangan sampai macetnya jalanan membuat Anda mengganggu orang lain. Karena untuk memperbaiki citra perokok yang kerap mendapat stigma buruk harus dimulai dari diri kita sendiri. Setidaknya, dengan tidak mengganggu orang lain dengan paparan asap rokok milik kita.



Semua bermula dari sebuah tweet dan nomor rekening. Kala itu saya sedang menemani Pak Martin Aleida di rumah sakit. Ia baru saja kecelakaan, kakinya patah. Dan kecelakaan itu terjadi setelah Pak Martin menghadiri acara Haul Pram yang saya dan kawan-kawan Ciputat adakan.

Kabar kecelakaan Pak Martin menyebar. Banyak orang yang menanyakan keadaan dan kondisinya, dan satu di antara sekian banyak orang itu adalah Puthut EA. Melalui sebuah tweet, ia menanyakan siapa orang yang bisa dihubungi agar bisa tahu kondisi Pak Martin. Dan seorang teman menjawab cuitan tersebut dengan mencolek akun twitter saya.

Berdasar info tersebut, Puthut EA meminta nomor rekening saya mungkin agar bisa mengirim sejumlah uang untuk membantu pengobatan Pak Martin. Sayangnya, saya waktu itu belum punya rekening. Maklum, ketika itu masih menjadi kaum miskin kampus yang jangankan punya rekening, uang di dompet saja belum tentu punya. Setelahnya, Puthut EA datang langsung untuk menengok Pak Martin serta mengajak saya dan kawan Jong untuk ngopi di kedai sekitaran Ciputat.

Semenjak itu, saya kerap kali diajak ketemu, ngopi, serta menemai Mas Puthut ketika Ia sedang ada urusan di Jakarta. Bahkan saya pernah diundang datang ke Jogja untuk menghadiri acara peringatan 10 tahun PEA berkarya sebagai penulis. Dari undangan inilah, saya menjadi kenal dengan banyak anak muda hebat lain dan mulai diajak bekerja bersama di bawah Komunitas Bahagia EA.

Ketika mengenalnya, saya sama sekali tidak mengetahui kalau dia adalah penulis yang banyak dikenal. Malah saya lebih dulu tahu kalau Ia adalah pendiri Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, salah satu organisasi gerakan mahasiswa yang lumayan besar di Indonesia. Sebagai mahasiswa yang waktu itu masih menggilai dongeng tentang gerakan, jelas saya perlu banyak belajar darinya.

Apalagi kemudian saya tahu bahwa orang ini adalah salah satu pimpinan bawah tanah Partai Rakyat Demokratik yang dikecam Orde Baru itu. Sebuah partai yang menjadi semacam dongeng ketika membicarakan kejamnya Orde Baru. Semakin bersemangat saya mau belajar langsung dari orang ini.

Pun ketika saya tahu bahwa dia penulis terkenal, saya amat ingin belajar menulis darinya. Membaca berbagai kumpulan cerpen dan tulisan-tulisannya, membuat saya tahu kualitasnya. Membuat saya tahu bahwa dia bukan orang yang sembarangan.

Sayang, harapan itu tak pernah terwujud. Dia bukan tipikal orang yang senang mengajari orang lain. Bahkan sebagai penulis terkenal, ia tak pernah membagi ilmu menulisnya kepada saya yang apalah ini. Sebagai seorang aktivis pun, tak pernah Ia mengajari saya secara langsung.

Memang banyak hal yang saya pelajari darinya. Namun semua itu tak pernah didapat dari diskusi-diskusi formal atau kelas-kelas yang biasa saya ikuti. Semua saya terima dari obrolan-obrolan santai sembari ngopi atau minum minuman keras. Hampir semua saya dapatkan dalam kesenangan dan kegembiraan ketika berkumpul bersama banyak kawan.

Sebagian lain, ilmu-ilmu dari Puthut EA saya dapatkan ketika bekerja bersamanya. Di komunitas tempat kami bernaung, saya belajar bahwa salah satu hal yang paling penting dalam pekerjaan adalah gembira. Karenanya kami selalu bekerja dalam kegembiraan. Pernah satu ketika, Puthut EA berkata seperti ini pada saya; “Anggap hasil pekerjaanmu ini sebagai anak, baik atau tidaknya anakmu ini bergantung pada apa yang kamu lakukan.”

Dalam urusan pekerjaan, Puthut EA memang bukan tipikal orang yang segan. Ia memang tidak banyak menuntut ketika pekerjaan berlangsung. Namun ketika pekerjaan tak berjalan dengan baik, Ia tidak segan untuk mengkritik dan terus mengingatkan kami untuk bekerja dengan serius. Apalagi terkait tenggat, ia tak bisa mentolerir keterlambatan tanpa alasan yang masuk akal.

Sebagai atasan, Puthut EA tak pernah menuntut kesempurnaan dalam bekerja. Bahwa ada satu-dua kesalahan adalah wajar. Tapi hal-hal semacam itu harus diminimalisir. Ia juga hanya meminta kami untuk bekerja sewajarnya, tak perlu ngoyo dan berlebihan.

Saya beruntung, dalam tiga tahun terakhir selalu menjadi orang yang diminta menemani Puthut EA ketika ia sedang ada urusan di Jakarta. Apapun urusannya, saya hampir selalu diminta menemaninya.

Dari sinilah justru saya banyak belajar darinya. Mulai dari persoalan mempersiapkan rapat, attitude, tanggung jawab, dan masih banyak lagi. Walau tak pernah diajari secara langsung, banyak hal yang saya pelajari dari apa yang Puthut EA lakukan. Belajar dari bukan hanya soal pekerjaan atau organisasi, juga tentang hal-hal lain seperti membagi waktu dengan keluarga di antara kesibukannya yang bejibun itu. Walau hanya dengan mengikuti sosoknya dari belakang, dengan menemaninya dari agenda ke agenda, terlalu banyak hal yang saya dapatkan darinya.

Pernah suatu ketika, saat menemaninya saya cukup banyak memegang ponsel untuk balas-membalas pesan di Whatsapp. Waktu itu saya sedang dekat dengan perempuan. Hampir sepanjang waktu saya balas-balasan pesan. Ketika itulah Puthut EA mengingatkan saya agar tidak lupa tanggung jawab. Tidak melupakan hal-hal lain yang harus saya kerjakan.

Dengan menemani Puthut EA, berarti saya juga kerap diajak dalam beberapa pertemuan yang akan ada di agendanya. Dari sinilah kemudian saya bertemu banyak orang keren. Dan dari pertemuan-pertemuan inilah kemudian saya semakin banyak belajar. Tentu selain ikut makan-makan dan senang-senang.

Sayang, ada satu ilmu yang tak pernah benar-benar bisa saya dapatkan darinya. Yakni ilmu soal bagaimana cara menggaet perempuan dan menjalani hubungan dengan perempuan. Bahkan untuk urusan wanita, Ia hanya pernah menyarankan agar saya tetap sendiri saja. “Revolusi butuh kamu, Dit,” ucapnya dengan mimik serius.

Meski begitu, mengenal sosok Puthut EA adalah salah satu hal penting dan menyenangkan dalam fase hidup saya. Saya tentu tak bakal bisa menjadi seperti sekarang tanpa keberadaan Puthut EA. Apalagi Ia kerap mempercayakan hal-hal penting pada saya. Mempercayakan sesuatu yang kadang saya sendiri tak percaya bisa menyelesaikannya. Dan dari kepercayaan inilah, saya menjadi makin berkembang dan terus belajar untuk menjadi lebih baik lagi. Kini, tinggalah saya melunasi utang kepercayaan itu kepadanya.


Selamat Ulang Tahun, Mas. Walau hidup memang tak pernah baik-baik saja, keadaan inilah yang terus membuat kita mau belajar.

Ada banyak hal yang menyebabkan sebagian besar masyarakat kita tidak menyukai rokok. Selain karena memiliki faktor risiko, rokok juga dapat membuat paparan asap terhadap orang lain. Inilah satu faktor utama orang tidak menyukai rokok.

Mungkin sebagian mereka yang tak merokok kerap menggunakan alasan merokok dapat merusak kesehatan atau dalih-dalih kesehatan lainnya. Tapi yang utama saya rasa faktor tidak sukanya mereka terhadap rokok adalah karena paparan asap rokok yang bisa mengganggu mereka. Singkat kata, mereka tak mau terpapar asap rokok.

Mengingat alasan tersebut, ada baiknya kita sebagai perokok bisa memahami rasa tidak suka mereka. Ini sama seperti sebagian kita yang tak menyukai mencium bau parfum menyengat dari seseorang. Mereka yang tak merokok pun banyak yang tak senang jika terpapar asap rokok.

Untuk itulah, kita para perokok harus bisa menghargai hak mereka yang tak merokok. Persoalan hak dan kewajiban ini sama seperti apa yang dikatakan Tan Malaka dalam Pamflet Politiknya yang tersohor itu. Bahwa merdeka bukan berarti kita bisa merampas hak orang lain. Bahwa kebebasan kita (merokok) bukan berarti merampas hak mereka yang tidak merokok.

Jangan sampai dalil-dalil soal hak yang kerap diserukan perokok malah tidak dilaksanakan oleh kita. Bahwa kita menyerukan hak-hak kita yang belum dipenuhi negara dan pemerintah memang perlu. Tapi ketidakmampuan pemerintah memenuhi hak tak boleh kita jadikan alasan untuk merampas hak orang lain.

Secara regulasi, memang hak-hak masyarakat yang tidak merokok telah banyak diakomodasi oleh pemerintah. Setidaknya sudah ada Peraturan Daerah tentang Kawasan Tanpa Rokok di banyak Kabupaten/Kota di Indonesia. Sayangnya regulasi tersebut malah tidak dijalankan dengan adil karena keberadaan ruang merokok yang diamanatkan undang-undang malah tidak disediakan. Hal ini menunjukkan keberpihakan pemerintah dan sikap diskriminatif mereka pada perokok.

Meski terus dihajar keadaan, para perokok harus bersatu melawan diskriminasi tersebut. Stigma kalau perokok itu mengganggu ketertiban umum harus dilawan. Sudah saatnya kita membuktikan bahwa perokok itu memiliki sikap santun dan bertanggungjawab.

Sudah saatnya kita, bukan hanya tidak merokok di ruang publik, tapi juga mengedukasi teman-teman perokok lainnya agar tidak melakukannya. Mari kita ingatkan setiap perokok yang masih saja merokok sembarangan agar tak merampas hak orang lain. Ayo kita ingatkan mereka yang masih buang puntung sembarangan agar membuang puntung pada tempatnya.


Dengan melakukan hal-hal seperti ini, kita tidak lagi sekadar membela diri dalam melakukan aktivitas merokok. Tapi kita juga telah menunjukkan pada mereka kalau perokok pun bisa santun, bisa bertanggungjawab. Semoga dengan melakukan hal-hal tersebut kita bisa menggugah nurani orang-orang yang membenci perokok dan rokok. Kalau memang masih tidak bisa, setidaknya kita telah berusaha sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.