Aditia Purnomo

Ibarat Tinder, Go-Food adalah layanan yang tepat bagi para pencari kuliner nikmat seperti saya. Menemukan makanan enak di Jakarta sebenarnya tidak sulit. Namun dasar pemalas, bukannya keluar untuk mencari, saya lebih senang menggunakan layanan ini untuk bertaruh jika tempat makanan yang saya pesan punya citarasa yang baik.
Seperti itulah kiranya nasib mempertemukan saya dengan Ayam Bakar Dalang. Iseng-iseng cari makanan enak, lihat promo gratis ongkir, dan bonusnya: pesanan saya ternyata makanan enak. Sepotong paha ayam bakar, lengkap dengan nasi, sambal dan lalapan. Sebuah paket hemat yang menyenangkan untuk makan siang.
Tapi cuma itu yang yang membuat saya tertarik dengan warung ini. Di nota dari mamang gojek, terdapat satu slogan yang agak nyeleneh. Jika tempat makan lain kerap mengklaim masakannya adalah yang terenak, warung ini justru memilih untuk menjadi yang terenak kedua. “Ayam bakar paling enak nomor dua,” begitu tulisnya.
Sebuah anomali, memang. Hal ini membuat saya ingin berkunjung ke warung itu. Ya kalau sudah ketemu makanan yang enak, pergi agak jauh pun tak apa. Apalagi lokasi warung ini tidak begitu jauh dari kantor saya, terbesit lah rencana untuk menyambanginya.
Mencari tempat makan enak di daerah Limo, Depok memang susah-susah gampang. Setidaknya, hanya ada tiga tempat makan enak yang saya jumpai di sana: satu Soto Ceker, satu Sego Sambal, dan terakhir ya Ayam Bakar Dalang ini. Selebihnya, tidak banyak yang menarik hati.
Satu kelebihan ayam bakar ini adalah bumbunya yang khas. Ya, khas. Manis dan gurihnya berbeda. Bumbunya meresap sampai ke dalam daging. Dan yang terpenting, walau dibakar agak gosong, rasa dari bumbunya menutup kegosongan itu sendiri. Benar-benar bumbu yang pas buat orang yang suka rasa manis.
Dua porsi ayam bakar dalang
Dua porsi ayam bakar dalang | © Aditia Purnomo
Ayam Bakar Dalang Berada di Jalan Meruyung, Depok
Ayam Bakar Dalang Berada di Jalan Meruyung, Depok. | © Aditia Purnomo
Warung ayam bakar ini berada di Jalan Raya Meruyung, tepatnya sebelum belokan Kantor Urusan Agama Limo. Tempatnya tidak besar, malah sederhana. Cuma memiliki empat meja yang khas seperti warung pinggiran jalan. Tapi jangan salah, dalam sehari warung ini bisa menghabiskan 80 ekor ayam dan 50 ekor bebek. Selain menjadi salah satu favorit para pengguna jasa Go-Food.
Sebagai pelengkap menu ayam bakarnya, warung ini membuat satu paket hemat yang diisi nasi, ayam bakar, ditambah satu tahu/tempe yang boleh digoreng atau dibakar. Kalau saya sih lebih senang dengan tahu bakarnya, karena memang bumbu bakar di sana membuatnya menjadi lebih enak. Dengan paket seharga 18 ribu, Anda sudah bisa menikmati satu porsi ayam bakar enak yang dilengkapi dengan sambal dalang.
Satu hal lain yang membuat warung Ayam Bakar Dalang layak dijadikan favorit adalah sambalnya. Yap, sambal dalang andalan warung ini memiliki rasa pedas yang pas dan gurih. Menurut pengakuan penjualnya, sambal yang mereka buat selalu segar karena hanya digunakan dalam jangka waktu satu hari. Jadi sambalnya tidak disimpan-simpan apalagi diberikan pengawet.
Jikalau pengunjung berharap satu menu yang bisa membuat mereka kepedesan, warung Ayam Bakar Dalang punya satu andalan lain yakni Bebek Penyet Dalang. Dua keunggulan utama dari bebek dalang adalah, bebek goreng empuk dan gurih dipenyet dengan sambal cabai yang pedas tapi nikmat. Paduan maut yang bikin perut mulas dan puas. Tapi tenang saja, kalau memang pengunjung tidak tahan pedas, Anda bisa memesan bebek goreng dengan sambal dalang.
Meski memiliki menu-menu andalan yang menggugah selera, warung ini tak mau jumawa terhadap para pelanggannya. Mereka tak mau mengaku diri sebagai warung makan terenak atau semacamnya. “Karena yang mengklaim diri nomor satu sudah banyak, cukuplah kita menjadi nomor dua saja,” ujar pengelola warung ini.
Pertama terbit di situs Minum Kopi
Saya adalah orang yang amat membenci pembangunan kereta bandara Soekarno Hatta. Jika kita hanya menilai secara normatif, memang kehadiran kereta bandara ini membuat akses menuju Soetta menjadi lebih mudah. Terbukanya akses bakal membuat orang-orang yang menggunakan bandara ini menjadi lebih senang atas pelayanan pengelolanya.
Tapi tunggu dulu, kemudahan tadi jelas bukan buat warga Kota Tangerang. Rumah tempat saya tinggal hanya berjarak 11km dari bandara. Dengan jarak sedekat itu, tentu perjalanan ke bandara harusnya lebih mudah. Namun pembangunan kereta bandara itu telah merenggut segala kemudahan akses untuk datang ke Soetta bagi saya, warga Kota Tangerang yang harusnya menikmati kemudahan karena tinggal tak jauh dari bandara.
Memang sebagai dampak pembangunan tadi, warga Tangerang yang mau ke Soetta harus repot-repot dulu berkeliling bandara. Sebelum ada pembangunan, saya cuma perlu waktu 20 menit untuk sampai ke bandara. Namun kini, saya harus menikmati perjalanan setidaknya 1 jam karena pintu M 1 bandara yang jadi akses termudah untuk kami telah ditutup karena pembangunan.
Kini kami perlu melewati dua jalur yang memutari bandara. Jika pintu M 1, maka kita harus memutari bandara lewat jalan parimeter yang kerap memakan korban. Di jalan ini memang sering terjadi kecelakaan. Jalannya sempit, kendaraan melaju kencang, dan penerangan di jalan ini minim. Terakhir, seorang kawan saya harus kehilangan satu jari kakinya setelah mengalami kecelakaan di jalur maut ini.
Jika kita mau menghindari jalur maut tersebut, saya harus memutar lebih jauh lagi ke Kebon Besar sebelum akhirnya masuk melalui jalan dari arah Tol bandara. Persoalan melalui jalur ini, ya kita cuma harus jauh-jauh ke Kebon Besar dulu sebelum bisa memasuki area bandara.
Mungkin pembangunan kereta bandara ini bakal berdampak positif bagi perekonomian. Ya setidaknya perekonomian para pebisnis dan daerah itu sendiri. Tapi bagi saya, warga Tangerang, pembangunan ini justru amat merugikan. Karena saya harus buang waktu lebih banyak untuk tiba di bandara yang, harusnya kepleset saja sampai.
Memang warga Tangerang bisa memanfaatkan kehadiran kereta bandara ini untuk menuju bandara. Betul sekali. Tapi perlu Anda tahu kalau tiket perjalanan kereta bandara sebesar Rp 100 ribu. Angka yang tidak kecil buat sebagian besar orang karena harga tersebut setidaknya senilai 1/5 harga tiket pesawat menuju Jogja.
Sialnya lagi, kehadiran kereta bandara ini kabarnya bakal mengurangi jumlah perjalanan KRL yang melintasi jalur Tangerang-Duri. Bajingan betul. Sudah kalau mau ke Soetta harus memutar jauh, lah ini kita mau beraktivitas sehari-hari saja harus terhambat karena keberadaan kereta bandara. Apalagi saya juga pengguna aktif KRL yang hampir setiap hari memakai jasa transportasi ini. Jika kemudian perjalanan KRL menuju Duri harus berkurang, bagaimana nasib kami para warga Tangerang?
Kalau sudah begini, pembangunan kereta bandara benar-benar hanya merugikan saya dan sebagian warga Kota Tangerang saja. Jika memang pembangunan itu diniatkan untuk menyejahterakan dan memudahkan kehidupan warga, kenapa pembangunan ini justru membuat kami merugi dan terganggu? Atau memang, semua pembangunan yang dimaksudkan pemerintah itu hanya merugikan kehidupan rakyatnya saja?
Terbit pertama kali untuk Baca Tangerang
Setiap orang pasti pernah membuat puisi. Entah itu puisi tentang cinta atau yang lain. Entah dibuat ketika galau patah hati atau hal yang lain. Karena itulah, puisi menjadi hal yang amat dekat dengan masyarakat.
Sayangnya, kebanyakan masyarakat menjadi takut akan puisi. Bukan karena orang yang membuat puisi bakal dihilangkan seperti Wiji Thukul tentu saja. Tapi hal itu muncul ketika orang-orang yang melihat kita berpuisi memberikan ‘penghakiman’ yang membuat kita takut untuk kembali membacakan puisi.
“Saat kita di sekolah dulu, ketika kita diminta guru untuk maju membacakan puisi, dan teman-teman memberikan sorakan ‘ciye’ pada kita hingga kita malu dan takut untuk kembali bersentuhan dengan puisi,” tutur Bentara Bumi, salah satu penggagas kelompok bernama Malam Puisi.
Untuk menciptakan panggung yang bebas penghakiman, kira-kira seperti itulah harapan saat Bumi dan rekannya Putu Aditya tatkala membentuk Malam Puisi. Selama ini, panggung untuk puisi memiliki banyak ‘regulasi’ yang merepotkan. Karena itulah Malam Puisi diupayakan untuk menjadi satu ruang yang bebas aturan dan yang terpenting, bebas ‘ciye’. “Lu mau baca puisi cinta atau apa ya terserah aja,” ujarnya tatkala ditemui di Festival Media Tangsel awal November lalu.
Berawal dari sebuah keinginan untuk membuat panggung yang menyediakan ruang bagi pencinta puisi, Malam Puisi telah berkembang hingga titik yang tak pernah mereka kira. Tatkala menginisiasi panggung pertama, mereka mengajak teman-teman juga orang lain untuk hadir dan ikut berpuisi di sana. Tak disangka, atensi publik melebihi ekspektasi mereka dan membuat Malam Puisi berkembang menjadi satu agenda yang cukup besar di Indonesia.
Kini, kurang lebih telah hadir acara dengan tagar Malam Puisi di puluhan kota seperti Surabaya, Depok, Jakarta, juga Batam. Hadirnya Malam Puisi di berbagai daerah tidak pernah rencanakan atau inisiasi, namun memang ada orang-orang di banyak kota yang meminta izin agar acara serupa digelar di tempat mereka. Ini menjadi satu hal yang betul-betul tak pernah mereka kira.
Awalnya, hanya ada dua penggagas yang aktif mengurus Malam Puisi. Namun karena Malam Puisi telah hadir di banyak kota, mereka kemudian membentuk sebuah badan bernama penyelia. Tugas utama penyelia adalah melakukan supervisi kepada Malam Puisi di berbagai kota meski akhirnya penyelia tidak terlalu aktif karena masing-masing orangnya punya kesibukan sendiri.
Meski para penggagasnya mulai tidak banyak aktif, tapi kelompok ini tetap berjalan dengan pesat. Setiap daerah telah memiliki agenda dan programnya masing-masing. Seperti di Depok yang menerbitkan Antologi, atau Jakarta tengah merencanakan Malam Puisi Istana sembari menunggu konfirmasi Presiden.
Walau telah berkembang dengan pesat, Malam Puisi menurut Bumi tetaplah satu kelompok kecil yang tak pernah diniatkan untuk menjadi besar. Karena memang hal-hal yang ingin dihadirkan oleh kelompok ini bukanlah kebesaran atau menjadi terkenal. Sesuai dengan tujuan awalnya, Malam Puisi hanya berharap bisa tetap membawa kebahagiaan dan kepuasan setelah mereka berpuisi di panggung tanpa penghakiman tersebut.
Pertama terbit untuk Baca Tangerang