Aditia Purnomo



Tahun ini Propinsi Banten merayakan ulang tahunnya yang kesebelas dengan penuh sukacita. Tepat semomen sebelum perayaan, rakyat Banten dikejutkan oleh berita ditangkapnya Tb. Chaery Wardana yang tak lain dan tak bukan adalah adik kandung Gubernur Banten. Sontak, mahasiswa dan tokoh-tokoh Banten merayakan kejadian itu dengan melakukan “sujud syukur” di jalanan. Inilah kado ulang tahun Banten paling istimewa bagi mereka.

Euforia tak selesai sampai disitu, tepat pada HUT Banten, ribuan mahasiswa dari berbagai organisasi tumpah ruah di ibukota Banten, mereka menuntut Gubernur, Ratu Atut Chosiyah mundur dan diusutnya kasus korupsi di Banten. Inilah gerakan mahasiswa yang paling massif (yang pernah saya ikuti) selain gerakan “Revolusi Rakyat Banten” pada perayaan HUT Banten ke 10 dan gerakan menolak kenaikan BBM tahun 2012.

Komunis masih menjadi bahaya laten buat kekuasaan. Segala bentuk perlawanan terhadap kekuasaan akan diidentikan dengan komunis. Begitulah historiografi bangsa ini dibentuk oleh penguasa. Sejarah dibentuk berdasarkan kepentingan dan kebutuhan penguasa.

Demi melanggengkan kekuasaannya, penguasa Orba menanamkan nilai-nilai yang harus diadopsi oleh masyarakat tanpa ada pertanyaan. Semua harus diikuti, kalau tidak ikut, pasti disebut komunis. Kebenaran adalah nilai yang dikonstruk oleh penguasa sebagaimana manya penguasa.
Apa artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan, begitu Rendra mengakhiri ‘Sajak Sebatang Lisong’ miliknya yang tersohor itu.  Ya, begitulah cara elegan Rendra mengakhiri sajaknya setelah mengajak para penikmatnya berpikir mengenai permasalahan bangsa. Berpikir sebagai sebuah sarana untuk memperhatikan dan memahami realitas.

Entah apakah Rendra pernah membaca karya-karya Soewardi Soejadiningrat? Tapi secara isi, sajak  'Sebatang Lisong' mirip dengan pola pendidikan tiga dinding ala bapak pendidikan nasional itu. Sebuah pola pendidikan yang mengajak peserta didik untuk melihat realitas sebagai bagian dari pendidikan.

Dalam sajaknya, Rendra mengajak kita untuk turun ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala, kemudian merumuskan keadaan yang ada. Mungkin, seorang Menteri Pendidikan belum sempat membaca sastra, makanya tak mengherankan jika anda tidak tersentuh untuk melihat bagaimana bobroknya kualitas pendidikan di desa-desa. Saya sarankan anda untuk sering-sering membaca karya sastra.