Aditia Purnomo


Pagi itu saya bangun terlambat. Saya sudah bangun jam setengah enam pagi, namun karena merasa perlu menuntaskan hajat di perut, saya baru berangkat ke loteng jam 6. Ketika keluar rumah tempat saya menginap di Temanggung, saya melihat orang-orang sudah mulai menjemur tembakau rajangan. Saya melewati proses merajang tembakau pada hari pertama kami di Temanggung.
Saya dan beberapa teman dari Komunitas Kretek tengah berada di Temanggung, untuk belajar lebih dalam lagi tentang persoalan pertembakauan. Beruntung, kami dapat menumpang tinggal di rumah salah satu petani terbaik yang ada di Desa Tlilir. Seorang petani bernama Sugito yang dikenal seantero Temanggung karena kualitas tembakau dari ladangnya. Soal ini akan saya ulas lebih serius pada tulisan yang lain.
Dalam kerja-kerja yang dilakukan para petani tembakau, beberapa dari mereka mempekerjakan orang lain untuk membantu kerjanya di ladang dan rumah. Di ladang untuk merawat tanaman dan memanen, di rumah untuk melakukan proses pasca panen. Jadi hampir dalam seluruh fase budidaya tembakau dibutuhkan pekerja yang siap membantu para petani.
Umumnya, masyarakat Temanggung hidup dari tembakau. Karenanya mereka biasa memanfaatkan musim tembakau sebagai ladang penghasilan untuk hidupnya dan keluarga. Hal semacam inilah yang mendasari Mugiat untuk ikut bekerja di ladang tembakau Sugito.
Mugiat adalah seseorang yang memiliki ladang tembakau, walau memang tidak seberapa besar. Hanya sekitar setengah hektar. Karena itulah Ia memutuskan untuk ikut bekerja bersama petani lain sebagai upaya menambah penghasilan dari musim tembakau. Seperti namanya, Ia bekerja dengan giat ketika musim tembakau tiba.
Biasanya ketika masuk musim tanam, Ia lebih dulu mengurus lahannya bersama anak dan istri. Ketika pembibitan dan menyiapkan tanah untuk ditanami, Ia akan ada di ladangnya dulu. Nanti setelah lahannya ditanami dan bisa ditinggal, Ia menyerahkan nasib ladangnya kepada istri dan anaknya yang sudah dewasa.
Di tempat Sugito, Giat mengerjakan semua hal yang dilakukan dari fase menyiapkan tanah hingga pascapanen tembakau. Ia membantu Sugito dari saat pembibitan hingga mengangkut keranjang tembakau siap jual ke mobil untuk dibawa ke gudang. Semua dikerjakan Giat sebagai seorang pekerja di ladang.
Ketika awal musim, Ia beserta pekerja lainnya menyiapkan tanah untuk ditanami. Setelah bibit siap, Ia tanami dengan tembakau. Masuk masa perawatan tanaman Ia juga memberikan pupuk, memangkas tangkai bunga yang tumbuh disela batang dan daun, juga memastikan penanganan seandainya tembakau diserang hama wereng.
Hal ini Giat lakukan hampir di sepanjang dua-tiga bulan masa tanam tembakau. Setidaknya ketika Ia tidak mengharuskan diri untuk bekerja di ladang sendiri. Ada masanya di mana Ia perlu membantu keluarganya mengurus lahan. Biasanya hal semacam ini dilakukan ketika pekerjaan di ladang Sugito sedang tidak terlalu banyak.
Namun saat panen, hampir seluruh waktunya disita oleh pekerjaan di ladang Sugito. Maklum, Sugito memiliki sekitar 1,5 hektar lahan yang ditanami tembakau. Dengan mengandalkan tenaga Sugito sendiri beserta dua pekerjanya, mereka hampir tidak memiliki waktu beristirahat. Itu saja mereka telah dibantu oleh tenaga pemetik yang hanya bekerja saat pemetikan.
Ah iya, pada masa panen biasanya hadir pekerja tambahan untuk membantu proses pemetikan. Mereka datang hanya untuk membantu memetik daun tembakau sedari jam 9 pagi hingga jam 2 siang. Begitu selesai memetik dan panen telah diangkut ke mobil, kerja mereka hari itu telah selesai.
Noto Mbako
Noto Mbako
Berbeda dengan Giat dan pekerja lainnya. Mereka yang bekerja penuh akan ikut terlibat dalam proses pascapanen, mulai dari menata tembakau untuk diperam, merajang tembakau setelah daun tembakau matang keseluruhan, menjemur daun rajangan, hingga menggulung tembakau rajangan yang telah kering. Semua kerja ini mereka akhiri dengan menaikkan keranjang berisi tembakau siap jual ke mobil untuk dibawa ke gudang.
Tentu saja, pekerja seperti Giat yang bekerja penuh mendapat bayaran berbeda dari pada pekerja yang hanya memetik saja. Biasanya, para pekerja penuh seperti Giat dibayar pada kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per hari. Itu angka yang diberikan ketika musim tembakau belum tiba. Oh iya, musim tembakau di sini diartikan sebagai masa panen dan petik tiba. Ketika musim tembakau, mereka dibayar pada kisaran angka Rp50 ribu hingga Rp70 ribu. Itu belum masuk bonus yang diberikan ya.
Sementara para pemetik dibayar pada kisaran Rp35 ribu hingga Rp50 ribu per hari. Jumlah yang mereka terima bergantung pada hasil kerja yang mereka lakukan. Nantinya upah akan dibayar sesuai kehendak pemetik. Jika mau diambil harian bisa, diambil sekalian pun bisa. Tergantung kebutuhan pemetiknya.
Jika menghitung musim tanam tembakau dan panen, Giat bisa bekerja selama 3 bulan saat masa merawat tembakau. Lama tersebut bisa dikurangi waktu ketika para pekerja mengurus ladangnya sendiri. Sementara pada saat masa panen tembakau, mereka bisa bekerja selama dua bulan penuh.
Kalau mau diratakan, upah yang diterima saat merawat tanaman sebesar Rp40 ribu dan yang diterima saat panen sebesar Rp60 ribu, lalu dihitung waktu bekerja saat merawat tanaman selama tiga bulan dan masa panen dua bulan, mereka bisa membawa pulang uang sekitar Rp7 juta. Itu belum termasuk bonus-bonus yang bisa mencapai angka Rp1 juta rupiah tergantung musimnya sedang bagus atau tidak. Angka yang lumayan besar jika dibandingkan upah minimum kabupaten Temanggung yang sebesar Rp1,4 juta.
Lagipula, angka di atas adalah hasil dari kerja sampingan yang dilakukan untuk menambah pemasukan saja. Belum termasuk uang yang dihasilkan dari ladang-ladang yang mereka miliki di rumah. Maklum, pada musim tanam tembakau tambahan penghasilan seperti ini harus dimaksimalkan. Semua kesempatan untuk mendapatkan penghasilan haruslah dimanfaatkan.

Pertama terbit di situs Komunitas Kretek
Saya datang ke Bali Utara berbekal kabar tidak baik bagi petani cengkeh. Tahun ini cengkeh tidak panen akibat curah hujan yang tinggi tahun 2016 yang lalu. Dengan asumsi serta pertanyaan yang didapat dari diskusi dan berburu informasi, waktu dua minggu di Bali Utara harus saya maksimalkan untuk menggali nilai penting cengkeh bagi petani di sana.
Perjumpaan pertama saya dengan stakeholder cengkeh di Bali Utara menghasilkan satu pemahaman. Mereka tidak pernah kehilangan keyakinan pada komoditas ini. Gagal panen tidak membuat mereka berpaling. Petani tetap setia merawat kebunnya, penggarap pun begitu. Pemetik dan pekerja kebun mencari cara bertahan hidup sembari menunggu datangnya panen raya.
Selama berada di Bali Utara, saya menemui orang-orang yang memiliki keyakinan terhadap cengkeh bahwa tahun depan akan panen besar. Entah petani, pemajeg (pengijon), pemetik, atau pekerja kebun. Semua memiliki keyakinan dan harapan yang sama.
Sebagai masyarakat yang hidupnya lekat dengan adat dan agama, mereka punya keyakinan kalau saat ini pohon cengkeh tengah “bermeditasi”. Tidak keluarnya bunga cengkeh tahun ini dianggap sebagai upaya tanaman untuk menyerap lebih banyak agar bisa memberikan hasil melimpah tahun depan. Petani dan stakeholder diajak untuk belajar bersabar oleh alam.
Sembari tetap memegang keyakinan, mereka mencari cara untuk mempertahankan hidup. Mereka mengandalkan komoditas lain yang ada di kebunnya. Mulai dari kopi, kelapa, dan pisang menjadi harapan hidup mereka. Ada pula yang berharap pada ternaknya, sembari mencari pekerjaan serabutan untuk mengebulkan dapur di rumah.
Cengkeh, bagi mereka, adalah pemeran utama dalam sebuah drama. Ketika pemeran utama tidak hadir, mereka masih memiliki pemeran figuran untuk mempertahankan cerita. Tapi figuran hadir bukan untuk menggantikan pemeran utama. Ia adalah pendamping yang mendorong pemeran utama agar cerita tetap berjalan.
Meski komoditas lain hadir untuk membantu petani bertahan hidup, tetapi posisi cengkeh tidak tergantikan. Selain telah menjadi urat dalam hidup mereka, budi daya dan tata niaga cengkeh pun lebih menggiurkan. Bukan hanya bagi para petani, tapi juga mereka yang terlibat dalam tata niaganya.
Modal budi daya cengkeh tidak seberapa besar. Perawatannya tidak banyak makan waktu dan tenaga. Apalagi nilai ekonomi komoditasnya belum bisa dikalahkan komoditas lain. Semua hal itu yang membuat posisi cengkeh tidak tergantikan.
Selama pemeran utama tidak mati, ia tidak bisa diganti. Begitu juga cengkeh yang tidak akan terganti posisinya selama masih bisa memberikan manfaat buat mereka. Keyakinan inilah yang membuat mereka bertahan bersama cengkeh.
Kini tinggal mereka menunggu kedatangan musim panen tahun depan. Sembari mencari cara untuk mempertahankan hidup, mereka memegang teguh keyakinan akan kejayaan. Tahun depan cengkeh panen besar, keuntungan berlimpah bakal mereka dapatkan.
Pertama terbit di Komunitas Kretek
Komoditas cengkeh di Bali berkembang pesat karena nilai ekonominya yang tinggi. Pada masa awal ditanam, harga jual komoditas ini mengalahkan nilai ekonomi kopi yang sebelumnya menjadi andalan. Setelahnya, penanaman cengeh secara besar-besaran dilakukan dan kini Bali menjadi salah satu provinsi penghasil cengkeh terbaik di Indonesia.
Jika mau dikalkulasi, keuntungan petani cengkeh atas satu hektar lahan bisa mencapai Rp300 juta. Angka tersebut adalah keuntungan bersih para petani karena jumlahnya telah dipotong oleh biaya perawatan dan pengerjaan pascapanen. Hitungan ini didasarkan pada kerja-kerja yang dilakukan oleh petani cengkeh di Bali.
Satu hektar kebun cengkeh biasanya ditanami sekitar 100 pohon bahkan lebih. Tergantung seberapa besar jarak tanaman yang diinginkan petani. Dalam kasus ini, diambil angka rata-rata 100 pohon untuk mempermudah kalkulasinya.
Biaya-biaya yang harus dikeluarkan petani setiap tahunnya berkisar pada urusan perawatan dan pascapanen. Pada masa perawatan, ada dua pengeluaran yang harus dilakukan petani. Pertama, merabas (membersihkan) kebun dan pemupukan. Kedua aktivitas ini dilakukan dengan menyewa tenaga pekerja kebun untuk membantu petani.
Untuk membersihkan kebun dengan luasan satu hektar, petani membutuhkan antara 5 hingga 10 pekerja kebun dengan estimasi waktu dua hari kerja. Dengan biaya upah pekerja kebun sebesar Rp100.000 sehari, maka dibutuhkan biaya sebesar dua juta rupiah untuk sekali membersihkan. Dalam satu tahun, ada dua sampai tiga kali agenda membersihkan kebun.
Sementara untuk pemberian pupuk, setiap satu pohon membutuhkan pupuk kimia dengan merek seperti Ponska sebanyak lima kilogram. Berarti, satu hektar kebun membutuhkan 500 kilogram pupuk ponska. Pupuk ponska dibanderol Rp400.000 per kuintal.
Artinya, untuk kebutuhan pupuk satu hektar, petani mengeluarkan biaya dua juta rupiah. Pemupukan dilakukan oleh lima orang pekerja kebun dengan estimasi waktu satu hari. Maka, biaya tambahan yang harus dikeluarkan sebesar Rp500.000. Setiap tahun, pemupukan dilakukan satu hingga dua kali.
Saat panen, petani harus mengeluarkan biaya membeli tangga sebanyak lima buah per hektar dengan harga Rp300.000 per buah. Jadi, petani mengeluarkan uang sebesar Rp1.500.000. Untuk pemetik, dalam sistem borongan, mereka akan dibayar Rp5.000.
Jika satu pohon cengkeh menghasilkan 120 kilogram cengkeh basah, maka petani harus membayar upah sebesar Rp600.000 untuk satu pohon. Maka, satu hektar dibutuhkan dana sebesar 60 juta rupih untuk pemetikan.
Setelah pemetikan, cengkeh basah kemudian harus dipisahkan antara bunga dan tangkainya (kepik). Proses pengepikan memakan biaya sebesar Rp1.000 per kilogram. Maka, biaya yang dikeluarkan untuk proses pengepikan sebesar Rp120.000 per pohon dan 12 juta rupiah per hektar.
Proses pengeringan cengkeh dalam skala besar biasanya dilakukan di Seririt. Biaya yang dikeluarkan adalah untuk sewa lahan sebesar Rp1.500.000 juta per tahun dan ongkos pengeringan sebesar Rp100.000 per kuintal. Artinya, dengan tingkat penyusutan 1:3 dari berat basah, cengkeh kering yang dihasilkan sebanyak 40 kilogram per pohon atau empat ton per hektar. Ongkos pengeringannya sebesar empat juta rupiah.
Dengan asumsi harga cengkeh rata-rata Rp100.000 per kilogram, maka nilai penjualan cengkeh petani dalam satu hektar sebesar 400 juta rupiah. Apabila dipotong dengan ongkos produksi, maka keuntungan petani dalam satu hektar cengkeh sebesar:
Dengan nilai ekonomi sebesar itu, tidak heran jika banyak petani memilih cengkeh sebagai komoditas andalan. Apalagi, cengkeh kering memiliki keunggulan dapat disimpan cukup lama. Keuntungan ini membuat petani memiliki tabungan dalam bentuk hasil panen yang bisa dijual ketika membutuhkan uang.
Naskah ini adalah bagian dari laporan hasil Ekspedisi Cengkeh 2