Aditia Purnomo

Seperti Pada Mantan, Jangan Berharap Banyak pada Liverpool

Leave a Comment

Siapa bilang siaran bola akhir pekan menjadi pelipur lara para jomblo diakhir pekan? Coba tanyakan pada para pens Liverpool, pernyataan ini tidak berlaku bagi mereka. Jangankan jomblo, pens Liverpool yang punya pacar pun bisa merasa siaran bola akhir pekan sebagai cobaan berat.

Tak percaya, coba tengok performa Liverpool musim ini. Betapa mengerikannya performa tim dari semua lini. Jendral lini tengah, sang kapten fantastik telah lanjut usia, namun pelatih masih ragu untuk menggantikannya dengan yang muda.

Di bawah mistar, performa Simon Mignolet angin-anginan karena kebanyakan makan angin. Posisinya yang absolut, membuatnya tidak berkeringat saat latihan. Pemain bertahan yang membantunya menjaga gawang lebih kacrut lagi. Komunikasi antara Skrtel dan Lovren buruk, seburuk-buruknya pasangan yang hampir putus. Masih bilang siaran langsung akhir pekan adalah pelipur lara?

Lini depan, ah bulan madu indah dengan Luis Suarez sudah berakhir. Jangan lagi berpikir untuk cetak banyak gol. Dengan Suarez, gaya main macam apapun bisa berujung dengan gol. Ingat, mantan adalah pemain yang begitu terangsang dengan sepak bola. Kemanapun bola diumpan, disana dia akan mengejar.

Sekarang kegirangan atas prestasi musim lalu harus dilupakan. Euforia masuk liga champions harus segera diakhiri. Ingat, musim lalu tim ini bernama Luis Suarez. Sekarang kita harus mulai dari awal.

Lagipula, sebagai tim yang secara sosio kultural berasal dari basis perjuangan buruh pelabuhan, mental pens Liverpool haruslah kuat. Karena itu perlu diasah dengan kekalahan dan hasil imbang supaya tak lagi menangis saat gagal meraih kemenangan.

Karena itu, pens Liverpool tak boleh dimanja. Ibarat mahasiswa, Liverpool adalah mahasiswa yang proletar. Tak boleh kebanyakan makan agar perut tak melilit karena lebih sering tidak makan. Nah, sekarang, pens Liverpool harus kembali pada kebiasaan tegar melihat tim lebih banyak tak menang.

Filosofi ini sendiri sudah diamini oleh pelatih. Buktinya, duit banyak penjualan Luis Suarez Ia gunakan untuk belanja banyak pemain ketimbang beli satu pemain berkelas. Layaknya mahasiswa proletar, lebih baik beli banyak persediaan makanan yang penting murah ketimbang enak tapi mahal.

Gaya hidup penuh kemanjaan pens Liverpool musim lalu tak boleh diulangi. Kebiasaan mengejek pens tetangga tak boleh diulangi, karena kesombongan hati musim lalu telah dibayar tuntas dengan performa Liverpool yang mengerikan awal musim ini. Ingat, sombong bukan gaya hidup pens Liverpool, itu milik kelas menengah ngehek.

Dan yang paling penting, Liverpool haruslah bisa move on dari mantan-mantan yang sukses bersama klub barunya. Gelar Liga domestik dan Liga Champions yang didapatkan Torres, Mascherano dan Alonso, dan yang segera didapatkan Suarez harus jadi pelajaran agar Liverpool tidak sembarangan mengakhiri hubungan dengan pemain berkelas.

Karena itu, jangan terlalu banyak berharap pada Liverpool musim ini. Slogan “Make Us Bel19ve”, harapan agar gelar ke-19 segera datang lebih baik disimpan dulu. Karena, berharap Liverpool juara musim ini sama saja seperti mengharapkan mantan yang sudah punya pacar baru mau kembali pada kita.

Ah, tapi apapun itu, menyaksikan Liverpool kalah tetap saja menyakitkan. Sama seperti mahasiswa proletar yang perutnya sakit bila tidak makan, melihat Liverpool tak kunjung menang pun saya hanya bisa bilang “sakitnya tuh disini” sambil menunjuk dada dan perut.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar