Aditia Purnomo

Negeri Darurat Cinta

Leave a Comment

“Kalau cinta sudah dibuang, jangan harap keadilan akan datang. Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperbudak jabatan”

Begitulah kira-kira jika negeri ini tidak memiliki cinta. Secara sederhana, Virgiawan Listianto atau yang lebih akrab dipanggil Iwan Fals menggambarkan, bagaimana jika masyarakat sudah kehilangan cinta, perkara kemanusiaan pun menjadi soal urusan belakangan. Inilah yang kemudian mulai mewabah dalam kehidupan masyarakat kita. 

Dewasa kini, masalah percintaan di Indonesia semakin kronis. Perkara cinta hari ini tereduksi pemaknaannya hingga tataran cabe-cabean, jomblo ngenes, dan pernikahan mewah.

Bagaimana tidak, pergaulan anak bangsa hari ini semakin mengkhawatirkan. Tanpa bermaksud meniru gaya dakwah Felix Siauw dan aktivis Lembaga Dakwah Kampus, pemaknaan cinta bagi anak muda memang jauh tereduksi dan mengarah ke kos-kosan. Ini tentu gawat. Karena makna cinta terbatasi pada ranjang dan pacaran. Meski kemudian, kritik harus diberikan pada sang Ustadz yang kembali mereduksi perkara cinta dengan seruan “Udah, Putusin Aja”.

Seruan itu justru memperparah pemaknaan pada cinta dengan membuat populasi jomblo di Indonesia semakin meningkat. Kenapa begitu? Jelas saja apa yang dilakukan ustad ini memperburuk keadaan. Karena apa yang dihasilkan ustadz felix justru dimanfaatkan para komedian berdiri untuk menjadi komoditi ejekan mereka. Akhirnya, stigma jomblo menjadi buruk, bahkan hampir seburuk stigma komunis.

Lantas, pemaknaan cinta pun semakin dangkal. Karena, segala daya dan upaya Ustadz Felix justru membuat makna cinta terbatas pada cara agar tidak dibilang jomblo.

Dan pemaknaan cinta memasuki fase terburuk setelah pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina terjadi. Tanpa bermaksud mengurangi makna pernikahan, dan juga tidak bermaksud mengatakan jika pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan, tapi disiarkannya pernikahan mereka ke seluruh penjuru tanah air membuat bangsa Indonesia mengalami dekadensi cinta yang paling parah.

Coba lihat, bagaimana paradigma masyarakat kemudian dikonstruk oleh beberapa stasiun televisi hingga terbentuk sebuah konsensus dikalangan calon mertua bahwa pernikahan ideal itu seperti pernikahan Raffi-Nagita. Bahwa pernikahan itu harus dengan mas kawin yang mahal dan pesta yang megah. Dan sekali lagi, bukan hanya mereduksi arti pernikahan, tapi juga membuat cinta jatuh pada jurang makna yang paling dalam. Cinta dimaknai hanya soal harta dan kekuasaan.

Padahal, kehancuran makna tentang cinta ini sama saja dengan hilangnya cinta dari peradaban. Hari ini, terlalu banyak hal soal cinta yang menjadi delusi. Bangsa kita hari ini terlalu sibuk dengan urusan harus punyapacar, mahar pernikahan, teman tidur diranjang, dan segala delusi tentang cinta.

Hal inilah yang kemudian, menghadirkan sosok-sosok haus kekuasaan yang mampu berbuat apa saja demi mendapatkan atau mengamankan kekuasaan. Dan keadaan seperti inilah yang menciptakan jenis manusia yang hanya peduli pada kepentingannya sendiri.

Bentuk paling nyata hilangnya cinta di negeri ini adalah ketika sesama saudara ribut dan bertengkar hanya karena perbedaan calon presiden yang didukung. Negara ini, menghadapi keadaan darurat cinta karena konflik horizontal terjadi di masyarakat yang geger setelah elit politik masih saja berkelahi di senayan sana.

Maka jangan salahkan, bila hadir orang-orang yang kehilangan akal sehatnya demi mewujudkan apa yang diinginkan. Dan jangan heran bila kemudian harga manusia semakin murah dan nantinya ketidakadilan semakin merajalela. Yang miskin semakin miskin, karena yang kaya akan terus beruoaya kaya biar bisa menikahkan anaknya secara ideal.

Bila sudah begini, haruskah cinta yang mesti kita salahkan? 
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar