Aditia Purnomo

Akhir Kisah Sebuah Toko Buku

4 comments


Beberapa waktu lalu, saya sempat mendengar jika Toko Buku Kalam akan pensiun. Ya, toko buku yang pernah menjadi salah satu tempat penyebaran buku-buku yang dilarang pada akhir Orde Baru ini akan tutup usia. Tentu menyedihkan mendapat kabar seperti ini ketika dunia literasi Indonesia tengah berkembang.

Saya sendiri tidak tahu apa alasan pasti Toko Buku ini tutup, tapi sekadar menerka, saya rasa toko ini tutup karena mulai hilangnya pembaca yang berkunjung kesana. Sekadar info, dulu toko buku ini ramai dikunjungi karena menjadi tempat ngumpulnya anggota Komunitas Utan Kayu. Namun, sejak 2009 Komunitas Utan Kayu sudah pindah ke Salihara.

Pada masanya, toko buku ini menjadi semacam oase ditengah kehomogenan terbitan yang ada di Indonesia. Saat itu, keberadaan buku alternatif masih sangat jarang, dan hanya beredar dibeberapa tempat, salah satunya Toko Buku Kalam ini. Tetralogi Buru karya Pram yang saat itu dilarang pun bisa ditemukan di tempat ini.

Namun sayang, masa-masa gemilang toko buku alternatif sepertinya hanya akan menjadi romantisme saja. Hari ini, disaat dunia literasi berkembang, buku-buku alternatif justru tengah mengalami kemunduran. Kemunduran terjadi akibat pola pasar yang menuntut persaingan sempurna sulit dikejar toko buku alternatif.

Saya sendiri, setelah mengadakan kegiatan Festival Buku di kampus menjadi sedikit paham, bagaimana kehidupan industri buku dari hulu ke hilir. Dan saya pun, dalam kegiatan itu, banyak bersentuhan dengan penerbit-penerbit alternatif. Karenanya, saya cukup paham bagaimana perjuangan penerbit dan toko buku alternatif dalam mempertahankan perjuangannya menyebarkan wacana alternatif.

Saat awal-awal masuk kuliah, saya sempat bersinggungan dengan sebuah toko buku alternatif di Ciputat, Gerak-Gerik namanya. Kini, Gerak-Gerik sudah tutup. Saya kurang tahu apa alasannya, tapi saya merindukan keberadaan toko buku seperti ini di Ciputat.

Pernah suatu ketika, saat mampir di Gerak-Gerik, saya menemukan buku Merdeka 100% karya Tan Malaka. Harganya terjangkau, Cuma 27 ribu Rupiah, itu pun diberikan diskon hingga harganya Cuma 20 ribu. Tapi memang dasar mahasiswa proletar, sudah murah masih saja tidak mampu buku itu saya beli. Akhirnya, dengan berbaik hati, Bang Tion memperbolehkan saya membawa buku itu.

“Nanti kalau udah ada uang baru bayar,” ujarnya.

Sejak saat itu, saya beberapa kali mengambil buku disana dengan catatan dibayar ketika ada uang. Cukup banyak buku yang pernah saya beli disana, mulai dari Tetralogi Buru, Arok Dedes, Gadis Pantai, dan Panggil Aku Kartini Saja karya Pram hingga buku-buku wacana alternatif lainnya.

Namun kini, semua hanya menjadi romantisme. Gerak-Gerik sudah tiada, menyusul kemudian Toko Buku Kalam di Utan Kayu. Siapa lantas menyusul? Pernah dalam obrolan santai di rumah seorang editor Penerbit Marjin Kiri, pernah ia berucap, saat ini Marjin Kiri berada dalam tataran Survive, bukan lagi pada keuntungan bisnis.

Lantas, kalau semua penerbit dan toko buku alternatif mati, siapa yang mau menerbitkan buku-buku alternatif yang perlu dibaca kaum muda Indonesia. Apakah nantinya buku-buku alternatif akan menjadi begitu mahal karena kelangkaan penerbit dan toko buku alternatif? Seperti yang kini terjadi pada Tetralogi Buru yang harganya melambung tinggi.

Tapi bagaimanapun, saya tetap bersyukur masih ada anak muda di Indonesia yang mendedikasikan hidupnya untuk buku. Seperti Irwan Bajang dan Muhidin M Dahlan misalnya. Meski hari ini toko buku seperti Kalam dan Gerak-Gerik sudah tiada, tetapi kegigihan penerbit macam Marjin Kiri, Ultimus Bandung, dan Resist Book untuk menyebarkan pemikiran alternatif  patut diapresiasi. Semoga Tuhan tetap bersama kalian yang berjuang.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

4 komentar:

  1. Saya juga baru tahu di kota Jogja ini ada toko buku Gunung Agung yg sudah tutup sejak lama dan berganti jadi dealer sepeda motor (sekarang itu dealer juga sudah tutup). Mungkin faktor lokasi juga berperan dalam surutnya denyut ekonomi tempat-tempat usaha tersebut. Saya pikir ke depannya, buku-buku digital (e-book) akan mendominasi karena ya ongkos cetaknya bisa ditekan. Untuk menerbitkan satu buku biasanya kan mesti dicetak dalam jumlah banyak, semisal 1.000 eksemplar. Itu perlu modal banyak dan beberapa penerbit kadang tidak mau terlalu bertaruh untuk buku-buku alternatif yang "kurang menjual".

    BalasHapus
  2. meski begitu, bagi beberapa penikmat buku seperti saya, buku dari kertas tetaplah primadona. karena permasalahan-permasalahan inilah, harusnya kita bisa mengapresiasi penerbit-penertbit macam itu

    BalasHapus
  3. Sedih banget satu-persatu toko buku alternatif tumbang..

    BalasHapus
  4. iya, sekarang jadi agak sulit mencari buku bagus dan lengkap

    BalasHapus