Aditia Purnomo

Kader Karbitan

Leave a Comment

Tahun 2013 adalah tahun politik, tahun yang menunjang pesta demokrasi 2014. Tahun dimana para politisi berebut tampil ke depan publik untuk mencari jalan menuju Senayan. Ada yang buat posko bantuan bencana, ada yang ikutan blusukan, buat spanduk di banyak tempat, hingga ada yang pindah partai.

Ke-ngebetan politisi untuk menuju Senayan tentu memprihatinkan, mengingat mereka bisa melakukan apa saja untuk keinginannya. Entah pendidikan politik apa yang mereka dapat, tapi melakukan hal seperti pindah partai tentu menjadi sebuah kecacatan dalam pendidikan politik itu sendiri.

Semakin menjamurnya kader-kader karbitan dan kutu loncat  menjelang pesta demokrasi ini mungkin tak pernah terjadi pada masa Repubik ini belum menemui masa kelam Orde Baru. Pada masa itu, tak pernah terdengar ada seorang anggota partai yang hijrah ke lain partai hanya demi jabatan. Karena pada masa itu setiap anggota partai adalah orang yang memiliki ideologi yang sama dengan partai.

Tak pernah terdengar ada seorang kader PKI yang pindah ke Masyumi hanya untuk mengejar posisi. Bandingkan dengan sekarang dimana PKS sebagai partai yang katanya berideologi Islam menjaring kader meskipun tak beragama Islam. Begitu juga pindahnya politisi seperti Akbar Faisal yang katanya cinta Hanura tapi memilih berbagung dengan Nasdem.

Melihat kejadian tadi tentunya miris jika mengingat Tan Malaka menjadikan parpol sebagai alat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Tentu juga semakin miris ketika mengingat ribuan politisi yang berjuang demi kemerdekaan yang dibuang ke Boven Digul akibat perjuangan mereka.

Ditambah semakin banyaknya politisi yang pergi dari Senayan menuju hotel prodeo akibat banyak kasus seperti korupsi, tentu sangat berbeda dengan politisi dulu yang berangkat dari perlawanan hingga mendekam di balik jeruji sebelum berangkat menuju Senayan. Mungkin karena memang hanya sedikit politisi sekarang yang berangkat ke Senayan untuk berjuang.


Seandainya pendidikan poltik dilakukan secara benar sehingga ideologi tak bisa digadaikan hanya demi jabatan. Jika saja ideologi yang menjadi acuan tak sekadar ucapan belaka tapi menjadi sebuah ketetapan hati, mungkin dunia politik tak terlalu banyak dibenci orang. Entah kapan kita bisa mendengar lagi orang bangga dengan politik dan berani berkata lantang “saya kader PKI” dengan bangga.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar