Aditia Purnomo

Pendidikan Bukan Investasi

Leave a Comment
Pendidikan masih menjadi barang mahal bagi sebagian masyarakat Indonesia. Masih tingginya angka putus sekolah dan tingginya biaya kebutuhan sekolah menjadi sebuah bukti jika pendidikan masih menjadi kebtuhan tersier bagi sebagian masyarakat. Akibatnya, pendidikan selalu dianggap sebagai investasi bagi anak untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Hal inilah kemudian yang menjadi acuan orang tua menyekolahkan anaknya. Kebanyakan orang tua berharap sang anak bisa mendapatkan hidup yang lebih baik lewat pendidikan. Memang tak salah jika ada pandangan seperti ini, karena bagaimanapun juga pendidikan memang memberi dampak yang baik bagi kehidupan.

Namun, jika pemikiran pendidikan merupakan investasi yang mampu menghasilkan uang tentu juga membawa dampak yang negatif. Coba saja kita lihat menjamurnya universitas ruko yang memberi kemudahan untuk orang mendapatkan ijazah yang digunakan untuk mendapatkan pekerjaan.

Atau coba kita lihat tuntutan orang tua pada anaknya di perguruan tinggi. Kuliah jangan lama-lama, segera lulus kuliah lalu mencari kerja. Ya, pekerjaan dan penghasilan sepertinya telah menjadi tujuan akhir pendidikan di Indonesia.

Padahal, jika kita memahami filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah sebuah sarana untuk memanusiakan manusia. Pendidikan menurut ki hadjar adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak- anak. Bagi Ki Hadjar, tujuan pendidikan ialah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Tentulah, pemahaman mengenai arti pendidikan bagi Ki Hadjar ini berbeda jauh dengan pendidikan gaya bank yang ada di Indonesia saat ini. Pendidikan model bank yang selalu berbicara investasi, keuntungan dan penghasilan.

Bagi Paulo Freire, pembahari pemikir pendidikan amerika latin, model pendidikan ini seperti ini bukanlah pendidikan yang mendidik. Karena, pola pendidikan mapan seperti ini memperlakukan seorang anak seperti obyek investasi dan sumber deposito potensial. Mereka dididik sebagai sarana tabungan yang akan dipetik hasilnya kelak.

Inilah yang tidak disadari oleh masyarakat. Mereka (masyarakat), menganggap pendidikan model ini akan memberi kehidupan yang lebih baik untuk mereka. Padahal, pendidikan model ini justru memberi dampak yang sangat besar bagi kaum mapan yang nantinya akan memanfaatkan masyarakat untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Harusnya, seperti apa yang diharapkan dua pemikir pendidikan tadi, pendidikan harusnya menjadi sarana untuk memanusiakan manusia. Baik Paulo Freire maupun Ki Hadjar Dewantara sepakat, bahwa pendidikan haruslah terbuka, tidak tertutup seperti sekarang. Pendidikan haruslah berinteraksi dengan realitas sosial.

Dengan begitu, pendidikan bukanlah lagi sekadar ajang investasi yang penuh muslihat. Pendidikan haruslah menjadi sarana memerdekakan pribadi-pribadi tertindas, bukan menjadi sarana keuntungan pribadi belaka. Pendidikan haruslah menjadi sarana yang menghubungkan seorang anak dengan realitas sosial hingga kemudian memahami persoalan dan permasalahan sosial dan kemudian mengabdi untuk bangsanya.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar