Aditia Purnomo

Tawa

1 comment


-dia hampir mati! kau tak lihat dia, mukanya sangat pucat! bentak laki-laki berkumis tipis itu.

-maaf pak, tapi ini sudah prosedur, saya hanya menjalankan tugas, sekali lagi maaf.

-apa kau bilang?! prosedur! orang sakit mana yang butuh prosedur? dia butuh perawatan!

-tapi saya…

brak….!
ucapannya terputus karena gebrakan tangan sang laki-laki menghancurkan meja resepsionis rumah sakit. dengan tatapan tajam laki-laki menatap suster cantik yang dirasanya tak punya otak itu.

-bangsat! dia sekarat! teriakannya menggelegar memenuhi seluruh ruangan.

****

hari cerah, jalanan samping istana begitu ramai. masyarakat ibukota berbiasa sibuk dengan segala hakekatnya. Pedagang buah dengan timbangan rusaknya, buruh bergerombol sambil santap siang di warung nasi, roda besi berlalu lalang dengan meyemprotkan asap hitam kelangit biru, dan tokoh kita diseberang istana berdiri termangu menonton awan yang sedang berkejaran.

telah dua jam ia berdiri tanpa bergeser semili pun. tanpa menghiraukan besi bergerak juga lalu lalang tulang yang dibungkus kulit. sementara ia menyibukkan dirinya, di istana tengah berlangsung sidang paripurna.. sidang berbahas tentang konspirasi menjatuhkan kerajaan, dimana indikatornya banyak kaum inteligensia yang turun ke jalan untuk melancarkan aksi demi menjatuhkan raja.

mendengar penjelasan menteri-menterinya tentang konspirasi, raja murka. ia menitahkan algojonya untuk memberi serangan pada para penentangnya dan semua setuju, sidang dilanjutkan. raja bertanya pada perdana menteri.

-hei perdam, bagaimana keadaan rakyatku sekarang?
menteri tambun yang sedari tadi berkantuk diri langsung berdiri.

-yang mulia raja. kini rakyat tengah merasakan hasil dari pembangunan kita. barang-barang yang kita impor dari negeri adidaya telah memberi efek yang luar biasa bagi kerajaan kita. pendapatan negeri bertambah, negara adidaya pun semakin berani berivestasi di kerajaan ini yang mulia.

mendengar penyataan perdam-nya, raja pun tersenyum.

-baiklah karena tidak adalagi yang mesti dibahas, mari kita bersantap siang dahulu sebelum kita bubar.



****

carahnya matahari segera berganti. awan yang berkejaran mulai dimakan awan gelap. angin pun semakin kencang menampakkan dirinya. badai segera datang. toko-toko segera menutup. pedagang buah bergegas mendorong gerobaknya ke rumah. manusia bumi bergegas ke rumah demi nikmatnya perapian dan kopi buatan istri. anak-anak segera dicarikan oleh ibunya agar lekas pulang. cucian basah segera di angkut masuk. sedang tokoh kita masih termangu di seberang istana.

badai mulai mengamuk. angin menggedor perumahan dengan kekuatannya. hujan turun laksana besi ditarik magnet sebegitu gabannya. air pun mulai menggenang di titik-titik lokasi rawan banjir. dengan amukannya badai telah mengosongjan jalanan ibukota dari manusia juga hewan. hanya yang mau mati keluar dari persembunyiannya. dan memang hanya tersisa satu orang gila di jalanan ibu kota. dialah tokoh kita.

Tokoh kita duduk bertopang dagu di trotoar seberang istana. Ia tertawa mendengarkan nyanyian angin yang sedang kesal. Ia tertawa menahan pukulan rintikan hujan yang mengerahkan seluruh kekuatannya. Tokoh kita tertawa, matanya jelalatan, ia menghiraukan amukan badai gabungan hujan dan angin. Tengok kiri, sepi. tengok kanan, sepi. Hadap belakang sepi. Sepi, semua orang bersembunyi dibalik tembok rumahnya.

Bosan, tokoh kita bergegas pergi. Pergi kearah angin berhembus, mengarahkan diri pada segala arah. Mengarahkan diri pada kesengsaraan. Ia pergi ke kawasan kumuh belakang istana. Tempat pembuangan sampah utama kerajaan ini. Tempat semua sampah ibukota diangkut. Tempat yang membuat ibukota begitu bersih. Dan tempat penghidupan bagi kaum urban. Tempat yang dinamai junkyard.

****

Badai makin mengganas. Angin menunjukan keperkasaannya. Gubuk-gubuk kayu diterjang. Atap-atap jerami diterbang. Pemukiman dengan kayu dan besi rongsokan pun ditumbangkan. Semua habis. Habis tersapu gelombang pasang hujan. Keadaan berantakan. Tak layak tuk ditinggal. Bila pun ada yang tinggal, pasti sudah sedrai tadi ia mati, ikut terhempas bersama rongsokan barang. Dan memang tak nampak barang sebatang pun moncong manusia. Mereka telah pergi sebelum badai mengganas. Mereka tahu, badai akan datang, berkat kecanggihan layar kotak dan ramalannya tentang hujan.

****

Badai mereda. Kini hanya gerimis kecil yang masih menjatuhi bumi. Dan tokoh kita, masih saja berjalan.

-arghh…..!
Seperti sebuah teriakan. Akh, mungkin itu hanya khayalanku akan adanya kehidupan, gumam tokoh kita. Ia pun kembali berjalan.

-arghh…..!
Terdengar lagi, akh, kupingku pasti sudah rusak kerasukan air dari hujan tadi.

-arghh…..! tolong….!
Betul, suara, kupingku ini belum rusak rupanya, tapi otakku yang rusak.

-Sakit… tolong…
Akh betul ini suara, suara orang.

Ia sambangi asal suara itu. Suara itu berasal dari gubuk kayu yang telah roboh, ditaklukan badai. Suara seorang bocah. Bocah laki, tertiban bambu segaban. Ia bergelepar tak berdaya.

-tolong…
Ia pingsan, tubuhnya membiru, tragis.

Tokoh kita diam. Ia pegang dahi sang bocah. Panas, panas sekali ditengah kedinginan ini. Panas tubuhnya menjalar, seperti penyakit menular. Panas si bocah mengalir masuk ke tubuh tokoh kita. Ia panas, hatinya benar panas. Matanya berair. Ia marah.

Tak banyak bertele, bagai seekor gorila ia angkat bambu segaban yang menimpa tubuh si bocah. Setelah tubuh sang bocah bebas dari apa yang menibannya, ia mengangkat dan membawa sang bocah kearah kota. Dengan berlari, berlari tanpa henti, menuju rumah sakit

****

mendengar tokoh kita berteriak dan semakin marah, suster buru-buru memanggil bantuan. tak berapa lama dua orang sekuriti datang membawa pentung sebesar gaban.

-maaf pak, silahkan bapak keluar dari sini sekarang
ucap salah satu ramah

-bagaimana saya pergi jika anak itu hanya kalian perlakukan seperti buntelan tak berguna begitu? sudah tiga jam dia kalian anggurkan saja, apa kalian ingin dia mati?

-tapi pak, dia harus menyelesaikan administrasi terlebih dahulu, dan anak itu bukanlah warga kota ini.

-anjing, apa kau kira dia hewan yang bertransimigrasi kesini guna menghindari cuaca dingin?! dia manusia! anak manusia! bukan setan!

Mendengar teriakannya yang pedas, kedua satpam diam, membisu. Mereka tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi dalam diri mereka, mereka harus mengusir tokoh kita karena tugas, di satu sisi lagi mereka merasa iba terhadap sang bocah. Batin mereka bertempur, berdialektika.

****

Jarum detik melahap menit, bahkan jam. Waktu begitu cepat berlalu, hingga tak ada yang sadar bahwa sang bocah, sumber dari segala keributan di rumah sakit, telah mati. Semua terlambat, tidak, bukan terlambat. Semua diam, tanpa perlakuan. Dia mati dalam kesendiriannya menghadapi kematian. Tanpa dokter, apalagi tuhan. Hanya seorang, tokoh kita hendak membantunya.

Tokoh kita pun diam. Ia yang sedari tadi berapi, kini diam. Ia pegang dahinya, dingin, begitu dingin. Dingin yang menyeruak, menjalar ke tubuh tokoh kita. Tokoh kita pun dingin, dingin sedingin es. Tokoh kita diam. Suster diam. Satpam diam. Semua diam. Waktupun diam.

Tokoh kita berjalan, berjalan keluar menuju pelataran. Ia tinggalkan jasad sang bocah yang terbujur kaku, dan ia tetap berjalan. Ia lewati gudang, ia ambil sebuah pacul. Sampai pelataan ia tertawa, tertawa sekencang-kencangnya.

Ia ayunkan gagang pacul itu, menembusi dan menggali sebongkah demi sebongkah tanah keras pelataran rumah sakit. Bongkahan tanah yang terus keluar, dan semakin dalam ia menggali. Sampai cukup dirasanya, ia berhenti menggali. Keluar ia dari lubang galiannya, ia pergi kea rah kebun bunga. Disana, ia ambil setangkai bunga dari semua yang masih tersisa di kebun itu. Dan ia kembali ke pelataran.

Semua terenyuh, tergetar hatinya. Dua orang satpam yang tadinya sangar, terlihat sendu. Suster cantik tapi bodoh lengkap dengan kemasa-bodohannya menangis. Beberapa penjenguk juga pasien yang dijenguk pun ikut bersimpati. Namun sang bocah masih terbujur kaku di bangsal rumah sakit.

Sampai pelataran ia taburkan bunga kedalam galiannya. Sejenak, ia berdoa, atau terlihat seperti berdoa. Lalu ia masuk kedalam galiannya. Ia rebahkan tubuhnya, dan ia tertawa. Tertawa sekencang-kencangnya. Tertawa sekeras-kerasnya. Sampai ia kehabisan nafas, dan menutup matanya.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar:

  1. suster cantik ngotok dan melotot, dan berkata silahkan anda tunggun di muka. hai modar aku, jawab sang pesian yang merasakan
    salah satu liirik Iwan Fals.

    BalasHapus