Aditia Purnomo

Memperjuangkan Kemerdekaan yang 100%

Leave a Comment

Lenjapkan adat dan faham tua 
Kita rakjat sadar-sadar.
Dunia sudah berganti rupa 
Untuk kemenangan kita ~ Internasionale
Bagi Soekarno, kemerdekaan bukanlah garis akhir perjuangan. Kemerdekaan adalah jembatan yang akan membawa Indonesia menuju cita-cita kesejahteraan untuk rakyatnya. Karena itu, baginya, revolusi belum selesai. Perjuangan harus tetap berlanjut.

Hari ini memang cukup banyak orang yang mencibir, memangnya Indonesia sudah merdeka? Wong Papua masih dikuasai Freeport, Cevron masih berkuasa di nusantara, regulasi masih dibuat untuk kepentingan asing, dan para mantan masih diperintah oleh orangtuanya (baca: mantan camer).

Merdeka bagi Indonesia hari ini adalah menjadi sumber bahan mentah, sumber tenaga kerja murah, pasar bagi produk imperialis dan sasaran ekspor kapital. Lantas kita bergembira menyaksikan Paskibra mengerek bendera. Lantas kita bergembira ketika memenangi lomba menikung pacar teman.

Padahal, menurut Tan Malaka, merdeka yang bukan seratus persen sama saja dengan bukan merdeka. Karena merdeka tak boleh ditawar. Lalu, bagaimana caranya mewujudkan merdeka yang seratus persen itu?

Sederhana. Jangan lagi ada mekanisme perjodohan dalam dunia asmara masyarakat kita. Loh, merdeka itu harus dimulai dari hal sederhana. Bagaimana mungkin Indonesia bisa merdeka kalau kau harus putus dengan pacarmu karena dia telah dijodohkan oleh orang tuanya? Yang begini kau sebut sudah merdeka?

Tapi ingat, memperjuangkan kemerdekaan bukan berarti tidak terima kalau sudah ditolak, lalu pergi ke dukun untuk terus memperjuangkan cinta. Kemerdekaan nggak serendah itu, Kawan! Merdeka itu selalu punya batas, karena merdeka bukan berarti kesewenangan. Karena merdeka yang seratus persen ialah merdeka yang tidak merampas kemerdekaan orang lain.

Kalau kamu ditolak oleh gebetan, ya terima saja. Jangan dipaksakan. Selain bisa merampas kemerdekaan gebetanmu, kalau dipaksakan ya seakan kamu nggak bisa laku. Merdeka dalam urusan asmara bukan berarti soal diterima atau ditolak, tapi lebih ke arah menerima kebahagiaan orang yang kamu suka.


Begitu juga untuk urusan perjodohan. Kalau kamu nggak mau dijodohkan sama orang tua ya ngomong. Kemerdekaan itu perlu diperjuangkan. Sekalipun perjodohan dianggap adat masyarakat, kalau itu melanggar kemerdekaan seseorang, tentu harus dilawan. Kalaupun gagal, minimal kita sudah melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar:

Posting Komentar